Once Upon a Lie (2025)
Once Upon a Lie merupakan film drama-romance tahun 2025 yang mempertemukan seorang penulis skenario muda dengan perempuan pemilik penginapan di sebuah pulau indah, sementara hubungan mereka perlahan dibayangi identitas palsu dan cinta yang bermula dari dunia daring. Penonton dapat nonton Once Upon a Lie (2025) untuk mengikuti Le ketika pencarian terhadap perempuan misterius yang mengagumi tulisannya justru membawa dirinya semakin dekat dengan Wen, sosok yang menyimpan rahasia mengenai hubungan mereka.
nonton Once Upon a Lie (2025)
Once Upon a Lie menggunakan hubungan daring sebagai dasar sebuah kisah romantis mengenai identitas, kesepian, dan keinginan menemukan seseorang yang benar-benar memahami diri kita. Film menempatkan dua orang dari generasi serta kondisi kehidupan berbeda dalam hubungan yang awalnya terlihat tidak mungkin.
Le merupakan penulis skenario yang sedang mengalami kesulitan dalam pekerjaan dan kehidupan. Wen adalah perempuan dewasa yang telah melewati kegagalan hubungan dan menjalankan sebuah penginapan di pulau yang jauh dari kehidupan kota.
Pertemuan keduanya terjadi dalam keadaan ketika Le sebenarnya sedang mencari sosok lain. Dari situlah film mulai memainkan batas antara kebohongan, harapan, dan hubungan yang tumbuh secara nyata.
Sinopsis Once Upon a Lie
Le adalah seorang penulis skenario yang belum berhasil mendapatkan kehidupan profesional seperti yang diharapkannya. Ia tinggal bersama sang ibu yang sedang sakit dan terus mencoba memperoleh kesempatan baru dalam dunia penulisan.
Suatu hari, Le berkenalan melalui internet dengan seorang perempuan misterius yang sangat menyukai karya-karyanya. Percakapan tersebut membuat Le merasa akhirnya menemukan seseorang yang dapat memahami pikirannya.
Harapan tersebut memberikan warna baru dalam kehidupannya. Le mulai membayangkan bahwa perempuan tersebut mungkin merupakan cinta yang selama ini ia cari.
Kesempatan kerja kemudian membawa Le menuju sebuah pulau dengan pemandangan indah. Ia berharap dapat bertemu perempuan misterius tersebut sekaligus mengerjakan proyek skenario baru.
Namun, pertemuan yang diharapkan tidak kunjung terjadi. Sebaliknya, ia justru semakin dekat dengan Wen, pemilik penginapan lokal yang mempunyai kepribadian serta pengalaman hidup sangat berbeda darinya.
Le sebagai Penulis Skenario yang Sedang Kesulitan
Le menjadi salah satu pusat utama cerita. Ia merupakan penulis yang mempunyai kemampuan tetapi belum menemukan kesempatan untuk membuat kariernya berkembang.
Kegagalan profesional membuat dirinya mudah mempertanyakan kemampuan sendiri. Ketika seseorang di internet menyatakan kekaguman terhadap tulisannya, perhatian tersebut terasa sangat berarti.
Hubungan daring kemudian bukan hanya persoalan romansa. Ia juga memberikan validasi bahwa karya Le masih dapat menyentuh seseorang.
Bruce Hung sebagai Le
Bruce Hung memerankan Le dan membawa karakter pria muda yang berada dalam periode tidak pasti dalam hidupnya.
Le harus menghadapi tekanan pekerjaan, kondisi sang ibu, dan harapan menemukan hubungan emosional yang benar-benar tulus.
Perjalanannya ke pulau kemudian menjadi kesempatan untuk keluar dari rutinitas sekaligus memaksanya menghadapi sesuatu yang tidak pernah direncanakan.
Wen sebagai Pemilik Penginapan
Wen merupakan perempuan pemilik penginapan yang telah mengalami kegagalan dalam hubungan masa lalu.
Ia terlihat lebih matang dibandingkan Le dan mempunyai pengalaman hidup yang jauh berbeda. Perbedaan usia tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam bagaimana hubungan mereka dilihat oleh lingkungan sekitar.
Namun, Wen juga membawa kesepian serta kebutuhan untuk merasa dicintai yang membuat dirinya tidak sepenuhnya berbeda dari Le.
Irene Wan sebagai Wen
Irene Wan memerankan Wen dan menjadi salah satu pemeran utama film.
Karakter tersebut membutuhkan keseimbangan antara percaya diri dan kerentanan. Dari luar Wen terlihat mampu menjalankan kehidupannya sendiri, tetapi di dalam dirinya masih terdapat kebutuhan emosional yang belum selesai.
Hubungannya dengan Le perlahan memberikan kesempatan untuk memperlihatkan sisi tersebut.
Hubungan yang Dimulai dari Dunia Online
Hubungan digital menjadi salah satu fondasi utama Once Upon a Lie.
Internet memungkinkan seseorang membangun kedekatan tanpa harus berada dalam tempat yang sama. Namun, jarak tersebut juga membuat identitas lebih mudah dikendalikan atau bahkan dipalsukan.
Film menggunakan situasi tersebut untuk mempertanyakan apakah hubungan yang dimulai melalui kebohongan tetap dapat menghasilkan perasaan yang benar-benar nyata.
Catfishing sebagai Konflik Utama
Salah satu elemen penting cerita adalah penggunaan identitas daring yang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan.
Catfishing dapat membuat seseorang percaya bahwa ia sedang berbicara dengan orang tertentu padahal kenyataannya berbeda.
Dalam film, kebohongan tersebut tidak hanya menciptakan masalah praktis tetapi juga mengubah cara karakter menilai seluruh hubungan yang telah mereka bangun.
Ketika Kebohongan Menjadi Perasaan Nyata
Film membawa pertanyaan sederhana tetapi rumit: apakah sesuatu yang dimulai dari kebohongan dapat berkembang menjadi cinta yang tulus?
Perasaan tidak selalu mengikuti logika. Seseorang mungkin mengetahui bahwa dasar sebuah hubungan bermasalah tetapi tetap tidak dapat menghapus kedekatan yang sudah terbentuk.
Konflik Le dan Wen berada tepat di wilayah tersebut.
Pulau sebagai Latar Utama
Sebagian besar bagian penting film berlangsung di sebuah pulau dengan pemandangan laut yang indah.
Lingkungan tersebut memberikan kontras terhadap kehidupan kota dan tekanan yang sebelumnya dialami Le.
Pulau menjadi semacam ruang terpisah di mana hubungan baru dapat berkembang tanpa terlalu banyak gangguan dari kehidupan lama.
Pengambilan Gambar di Penghu
Film mempunyai hubungan kuat dengan Penghu, Taiwan, yang digunakan untuk menciptakan lingkungan pulau dalam cerita.
Pemandangan pantai, laut, dan suasana lokal memberikan identitas visual yang cukup dominan.
Lokasi tersebut membuat unsur romansa mempunyai nuansa seperti cerita liburan sekaligus memperkuat tema mengenai karakter yang melarikan diri sementara dari realitas sehari-hari.
Penginapan sebagai Tempat Pertemuan
Penginapan Wen menjadi salah satu ruang penting dalam perkembangan hubungan kedua karakter.
Le datang sebagai orang luar yang awalnya mempunyai tujuan berbeda. Namun, semakin lama tinggal, semakin banyak waktunya dihabiskan bersama Wen.
Interaksi sehari-hari perlahan mengubah hubungan formal antara tamu dan pemilik penginapan menjadi sesuatu yang lebih pribadi.
Proyek Film Mermaid dalam Cerita
Le datang ke pulau untuk mengerjakan proyek skenario yang berkaitan dengan kisah putri duyung.
Produser menginginkan sebuah adaptasi dari cerita yang telah berkali-kali digunakan dalam film dan budaya populer.
Le merasa kesulitan menemukan pendekatan baru sampai interaksinya dengan Wen mulai memberikan inspirasi berbeda.
Makna Putri Duyung dalam Once Upon a Lie
Konsep mermaid atau putri duyung bukan hanya bagian dari pekerjaan Le.
Dalam banyak dongeng, putri duyung berkaitan dengan cinta antara dua dunia berbeda yang sulit dipertemukan.
Gagasan tersebut mencerminkan hubungan Wen dan Le yang juga berasal dari usia, pengalaman, dan lingkungan sosial berbeda.
Judul Tionghoa 謊島美人魚
Judul Tionghoa film adalah 謊島美人魚.
Judul tersebut menggabungkan gagasan tentang kebohongan, pulau, dan mermaid yang semuanya mempunyai hubungan langsung dengan cerita.
Permainan kata tersebut membuat judul lokal membawa lebih banyak konteks mengenai konflik film dibandingkan judul internasionalnya.
Makna Judul Once Upon a Lie
Judul Once Upon a Lie jelas memainkan ungkapan “Once Upon a Time” yang biasa digunakan pada awal dongeng.
Film mengganti “time” dengan “lie”, menegaskan bahwa kisah cinta ini dimulai dari sebuah kebohongan.
Namun, seperti dongeng, cerita kemudian mempertanyakan apakah awal yang tidak sempurna tetap dapat menghasilkan akhir yang bahagia.
Hubungan Le dengan Ibunya
Le tinggal bersama ibunya yang sedang sakit dan mempunyai hubungan dekat dengannya.
Kondisi keluarga tersebut memberikan konteks tambahan terhadap kehidupannya. Ia bukan hanya seorang penulis yang gagal memperoleh proyek, tetapi juga seorang anak yang mempunyai tanggung jawab emosional di rumah.
Hubungan ibu dan anak memberikan sisi drama keluarga di luar romansa utama.
Gua Ah-leh sebagai Ibu Le
Aktris veteran Gua Ah-leh menjadi salah satu nama besar dalam jajaran pemeran.
Ia memerankan ibu Le yang mempunyai kondisi kesehatan kurang baik.
Kehadirannya membantu memberikan fondasi emosional yang lebih kuat terhadap karakter Le dan keputusan-keputusan yang dibuatnya.
Perbedaan Usia dalam Hubungan Wen dan Le
Perbedaan usia menjadi salah satu elemen paling menonjol dalam hubungan utama.
Wen berada pada fase kehidupan berbeda dari Le, baik dalam pengalaman hubungan maupun cara melihat masa depan.
Film menggunakan perbedaan tersebut sebagai sumber konflik sekaligus alasan mengapa keduanya dapat memberikan perspektif baru satu sama lain.
Romansa Lintas Generasi
Once Upon a Lie mencoba menggambarkan bahwa hubungan emosional tidak selalu mengikuti pasangan dengan usia atau latar kehidupan yang sama.
Namun, perbedaan generasi juga membawa pertanyaan mengenai ekspektasi, komitmen, dan cara masing-masing melihat cinta.
Hubungan Wen dan Le kemudian bergerak di antara daya tarik pribadi serta tekanan dari kenyataan tersebut.
Tema Kesepian
Baik Wen maupun Le mempunyai bentuk kesepian sendiri.
Le merasa frustrasi terhadap karier dan mencari seseorang yang benar-benar memahami tulisannya. Wen membawa pengalaman kehidupan serta hubungan yang membuat dirinya tetap membutuhkan kedekatan baru.
Internet menjadi tempat pertemuan dua bentuk kesepian tersebut sebelum kehidupan nyata memperumit segalanya.
Tema Identitas
Identitas menjadi tema penting karena film mempertanyakan seberapa banyak seseorang benar-benar mengenal orang yang ditemuinya secara daring.
Seseorang dapat memilih foto, nama, atau informasi tertentu untuk membentuk persona digital.
Namun, hubungan yang semakin dekat pada akhirnya membuat identitas nyata sulit terus disembunyikan.
Tema Kejujuran
Kejujuran menjadi ujian terbesar bagi hubungan Wen dan Le.
Sebuah kebohongan mungkin dibuat karena rasa takut atau keinginan mendapatkan perhatian, tetapi semakin lama dipertahankan, semakin besar dampaknya.
Film mempertanyakan apakah pengakuan yang terlambat masih cukup untuk memperbaiki kepercayaan yang rusak.
Tema Cinta dan Fantasi
Le membangun gambaran mengenai perempuan ideal berdasarkan percakapan online.
Masalahnya, seseorang yang dikenal melalui layar dapat dengan mudah berubah menjadi fantasi yang jauh dari kenyataan.
Ketika kehidupan nyata muncul, Le harus menentukan apakah ia mencintai seseorang yang benar-benar ada atau hanya versi yang dibangun dalam pikirannya.
Tema Menerima Kenyataan
Film mengingatkan bahwa hubungan tidak dapat selamanya bertahan dalam dunia fantasi.
Pada akhirnya, orang harus bertemu, berbicara secara langsung, dan menerima kekurangan satu sama lain.
Perjalanan Le menuju pulau menjadi proses untuk keluar dari gambaran ideal dan masuk ke hubungan yang lebih nyata.
Tema Cinta Kedua
Wen merupakan perempuan yang telah mengalami perceraian sehingga hubungan dengan Le dapat dibaca sebagai kesempatan baru.
Film tidak menempatkan kegagalan pernikahan sebagai akhir kemampuan seseorang untuk jatuh cinta.
Sebaliknya, masa lalu justru menjadi bagian dari cara Wen memahami risiko memasuki hubungan baru.
Tema Kreativitas
Sebagai penulis, Le mengalami kesulitan menemukan inspirasi.
Hubungannya dengan Wen kemudian mulai memengaruhi cara dirinya melihat cerita yang sedang ditulis.
Film menghubungkan pengalaman hidup dengan proses kreatif, memperlihatkan bahwa penulis sering memperoleh ide dari hubungan serta emosi yang benar-benar dialami.
Dongeng yang Bertemu Kehidupan Nyata
Film merujuk pada struktur dongeng tetapi menempatkan karakternya dalam situasi modern.
Tidak ada kerajaan atau sihir. Yang ada adalah dating online, pekerjaan kreatif, penginapan, keluarga, dan kebohongan.
Namun, karakter tetap mengejar sesuatu yang mirip dengan tujuan dongeng klasik: menemukan seseorang yang dapat membuat kehidupan terasa lebih lengkap.
Stanley Liu Ming-Yin sebagai Sutradara
Once Upon a Lie disutradarai Stanley Liu Ming-Yin, yang juga dikenal sebagai Stan Liu.
Film ini menjadi salah satu proyek panjang yang memperkenalkan gaya penyutradaraannya kepada penonton lebih luas.
Liu menggunakan lokasi pulau serta dinamika dua karakter utama sebagai pusat visual dan emosional cerita.
Stanley Liu dan Emily Chan sebagai Penulis
Skenario ditulis Stanley Liu bersama Emily Chan.
Keduanya membangun cerita mengenai hubungan yang bergerak dari ruang digital menuju kehidupan nyata.
Unsur romansa dipadukan dengan komedi situasi, drama keluarga, serta persoalan kepercayaan.
Edmond Pang Ho-Cheung sebagai Executive Producer
Edmond Pang Ho-Cheung atau Pang Ho-cheung tercatat sebagai salah satu executive producer film.
Namanya dikenal melalui berbagai film Hong Kong dengan pendekatan romance dan comedy yang tidak selalu konvensional.
Keterlibatannya menambah hubungan proyek dengan industri film Hong Kong kontemporer.
Irene Wan sebagai Aktris dan Produser
Irene Wan tidak hanya menjadi pemeran utama, tetapi juga mempunyai hubungan produksi melalui Irene Production Limited.
Film menjadi salah satu proyek terbaru dalam perjalanan panjangnya di industri film Hong Kong.
Peran Wen memberikan dirinya karakter romantis dewasa yang menjadi pusat hampir seluruh konflik emosional.
Produksi Hong Kong dan Taiwan
Film mempunyai hubungan produksi dengan Hong Kong dan Taiwan.
Pemerannya juga mempertemukan nama-nama dari dua industri tersebut, termasuk Irene Wan dari Hong Kong dan Bruce Hung serta Gua Ah-leh dari Taiwan.
Lokasi serta pendekatan produksinya memberikan film identitas lintas wilayah yang cukup jelas.
Genre Drama dan Romance
Once Upon a Lie paling tepat ditempatkan dalam genre drama-romance.
Film juga menggunakan beberapa elemen romantic comedy ketika identitas palsu dan kesalahpahaman menghasilkan situasi canggung.
Namun, konflik akhirnya bergerak menuju persoalan emosional yang lebih serius ketika kebenaran mulai terbuka.
Durasi Once Upon a Lie
Film mempunyai durasi sekitar 86 sampai 87 menit berdasarkan katalog bioskop yang berbeda.
Durasi kurang dari satu setengah jam membuat film bergerak cukup ringkas dari perkenalan online menuju konflik di pulau.
Fokus tetap berada pada Wen dan Le tanpa terlalu banyak subplot yang terpisah.
Tanggal Rilis di Hong Kong
Once Upon a Lie dirilis di Hong Kong pada 17 April 2025.
Film memperoleh klasifikasi IIB dalam sistem klasifikasi Hong Kong.
Perilisan tersebut berlangsung setelah periode promosi yang mempertemukan Irene Wan dan Bruce Hung dengan media serta penonton lokal.
Tanggal Rilis di Taiwan
Film kemudian dirilis di Taiwan pada 27 Juni 2025.
Vie Show Cinemas mencatat film sebagai drama-romance berdurasi sekitar satu jam 27 menit.
Perilisan Taiwan terasa relevan karena sebagian pemain serta lokasi produksi mempunyai hubungan kuat dengan wilayah tersebut.
Rilis di Malaysia
Film juga memperoleh penayangan di Malaysia pada Juli 2025.
Distribusi tersebut memperluas jangkauan cerita di luar Hong Kong dan Taiwan.
Perbedaan tanggal rilis menunjukkan bahwa film memasuki beberapa pasar Asia secara bertahap.
Bahasa dalam Once Upon a Lie
Film menggunakan Mandarin dan Cantonese.
Penggunaan lebih dari satu bahasa mencerminkan kolaborasi pemain serta produksi lintas Hong Kong dan Taiwan.
Versi internasional dapat menggunakan subtitle berdasarkan negara distribusi.
Pemeran Once Upon a Lie
Irene Wan memerankan Wen, sedangkan Bruce Hung tampil sebagai Le.
Gua Ah-leh menjadi salah satu pemeran pendukung utama, sementara Tou Tsung-hua, Hangee Liu, Emmie Reis, David Wu, dan Yumi Wong melengkapi jajaran pemain.
Ensemble tersebut mempertemukan beberapa generasi aktor dalam cerita romansa lintas usia.
Pemandangan sebagai Daya Tarik Visual
Film banyak menggunakan keindahan pulau sebagai bagian dari atmosfer.
Laut, pantai, langit terbuka, dan penginapan memberikan nuansa yang berbeda dari drama urban biasa.
Visual tersebut mendukung gagasan dongeng modern yang menjadi salah satu identitas cerita.
Cinta Online versus Cinta di Dunia Nyata
Le pada awalnya sangat tertarik pada seseorang yang dikenal melalui layar.
Namun, hubungan nyata dengan Wen berkembang melalui pertemuan, percakapan, kerja sama, dan waktu yang benar-benar dihabiskan bersama.
Film membandingkan dua bentuk kedekatan tersebut tanpa mengatakan bahwa salah satunya selalu lebih benar.
Apakah Kebohongan Selalu Menghapus Cinta?
Inilah pertanyaan terbesar film.
Kepercayaan jelas dapat rusak ketika seseorang menyadari dirinya dibohongi.
Namun, emosi yang tumbuh selama hubungan berlangsung tidak otomatis hilang hanya karena asal-usul hubungan tersebut bermasalah.
Konflik antara Idealisme dan Realitas
Le adalah seorang penulis yang terbiasa membangun dunia melalui cerita.
Ketika dirinya jatuh cinta melalui hubungan online, ia juga menciptakan gambaran ideal mengenai seseorang yang belum benar-benar dikenal.
Pengalaman di pulau memaksanya memilih antara fantasi yang telah dibangun dan hubungan nyata yang berada tepat di depannya.
Respons Kritikus
Respons kritikus terhadap film cenderung beragam hingga negatif, terutama terhadap chemistry pasangan utama dan eksekusi romansa lintas usia.
Namun, lokasi yang indah serta premis mengenai catfishing dan identitas online tetap menjadi aspek yang mendapatkan perhatian.
Karena itu, pengalaman menonton kemungkinan sangat bergantung pada seberapa jauh penonton dapat menerima dinamika Wen dan Le sebagai pusat cerita.
Siapa yang Cocok Menonton Once Upon a Lie?
Film cocok bagi penonton yang menyukai drama romance Asia, cerita hubungan daring, romansa lintas usia, serta latar pulau yang tenang.
Penggemar Irene Wan, Bruce Hung, atau Gua Ah-leh juga mendapatkan kesempatan melihat ketiganya dalam proyek yang sangat berfokus pada hubungan karakter.
Penonton yang menyukai cerita mengenai identitas palsu dan konsekuensi kebohongan kemungkinan akan menemukan premisnya menarik.
Apakah Once Upon a Lie (2025) Layak Ditonton?
Once Upon a Lie layak dipertimbangkan terutama bagi penonton yang tertarik pada pertanyaan mengenai apakah hubungan yang dimulai dengan kebohongan tetap dapat berubah menjadi sesuatu yang tulus.
Film menggunakan dunia online, kehidupan seorang penulis, penginapan di pulau, dan legenda putri duyung sebagai cara membingkai hubungan Wen dan Le.
Durasi sekitar 87 menit juga membuat ceritanya relatif ringkas dan tidak membutuhkan komitmen waktu panjang.
Kesimpulan
Once Upon a Lie (2025) mengikuti Le, seorang penulis skenario yang sedang kesulitan dan menemukan harapan baru ketika seorang perempuan misterius di internet mengagumi tulisannya. Kesempatan kerja kemudian membawa Le ke sebuah pulau indah, tempat dirinya berharap dapat bertemu sosok yang selama ini dianggap sebagai cinta sejatinya.
Pertemuan tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Le justru semakin dekat dengan Wen, pemilik penginapan yang mempunyai masa lalu serta rahasianya sendiri. Ketika identitas dan kebohongan mulai terbuka, Le harus menentukan apakah perasaan yang telah berkembang dapat bertahan setelah kepercayaan terguncang.
Dengan arahan Stanley Liu Ming-Yin, skenario karya Stanley Liu dan Emily Chan, serta penampilan Irene Wan, Bruce Hung, Gua Ah-leh, Tou Tsung-hua dan jajaran pemain lainnya, film drama-romance ini menawarkan cerita mengenai cinta online, perbedaan usia, kreativitas, kesepian, dan batas antara fantasi dengan kenyataan. Penonton yang ingin mengikuti hubungan Wen dan Le dari awal hingga rahasia mereka terungkap dapat nonton Once Upon a Lie (2025) hingga selesai.
