Born Pisces: Uoza-doshi (2020)
Born Pisces: Uoza-doshi merupakan film pendek drama Jepang tahun 2020 yang mengikuti kehidupan dua anak kelas empat SD bernama Midori dan Futa. Penonton dapat nonton Born Pisces: Uoza-doshi (2020) untuk menyaksikan bagaimana dua anak yang bahkan tidak saling mengenal harus menjalani keseharian di tengah masalah keluarga, kesepian, dan perilaku orang dewasa yang membuat masa kecil mereka terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.
nonton Born Pisces: Uoza-doshi (2020)
Born Pisces mempunyai judul asli Jepang Uoza-doshi atau 魚座どうし. Film berdurasi sekitar 30 menit ini tidak menggunakan konflik besar atau petualangan spektakuler, tetapi memusatkan perhatian pada kehidupan sehari-hari dua anak yang menghadapi persoalan keluarga.
Midori dan Futa sama-sama duduk di kelas empat sekolah dasar. Mereka tinggal di kota berbeda yang dipisahkan oleh sebuah sungai dan pada awalnya tidak mempunyai hubungan langsung satu sama lain.
Walaupun kehidupan mereka berbeda, keduanya mempunyai kesamaan penting. Mereka dipaksa memahami masalah orang dewasa pada usia ketika seharusnya masih dapat menjalani kehidupan sebagai anak-anak dengan lebih bebas.
Sinopsis Born Pisces: Uoza-doshi
Midori merupakan seorang siswi kelas empat yang tinggal bersama ibunya. Ayahnya pergi ke luar negeri karena pekerjaan dan hampir tidak pernah pulang ke rumah.
Ketidakhadiran sang ayah memberikan tekanan kepada kehidupan keluarga. Midori menyadari bahwa ibunya merasa kesepian dan mempunyai kekosongan emosional yang tidak mampu ia isi.
Di sekolah, Midori masih mempunyai teman serta menjalani rutinitas seorang anak. Namun, kehidupan di rumah membuat dirinya terus memikirkan keadaan sang ibu dan hubungan kedua orang tuanya.
Di sisi lain sungai terdapat Futa, seorang anak laki-laki yang juga duduk di kelas empat SD. Ayahnya tidak berada dalam kehidupan keluarga, sementara ibunya sangat aktif dalam kegiatan keagamaan.
Futa bahkan ikut terseret dalam aktivitas yang dilakukan sang ibu. Kakak perempuannya yang telah memasuki usia sekolah menengah mulai memberontak, sehingga rumah tidak selalu menjadi tempat nyaman baginya.
Midori dan Futa menjalani kehidupan secara terpisah, tetapi keduanya mempunyai perasaan yang sangat mirip. Mereka sama-sama berharap suatu pagi dapat terbangun dan menemukan bahwa seluruh masalah telah selesai.
Midori dan Kehidupan Bersama Ibunya
Midori menjadi salah satu pusat cerita. Dari luar, kehidupannya terlihat seperti kehidupan anak sekolah biasa yang mempunyai rumah, ibu, teman, dan aktivitas pendidikan.
Namun, hubungan kedua orang tuanya menciptakan ketidakstabilan yang terus terasa. Ayah Midori bekerja di luar negeri dan jarang kembali, sehingga sang ibu harus menjalani keseharian tanpa kehadiran pasangan.
Midori cukup peka untuk memahami bahwa ibunya tidak benar-benar bahagia. Ia menyadari adanya kekosongan emosional, tetapi tidak mempunyai kemampuan maupun tanggung jawab untuk memperbaikinya.
Situasi tersebut menempatkan Midori dalam posisi yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak. Ia mulai memperhatikan suasana hati orang dewasa dan menyesuaikan perilakunya berdasarkan keadaan di rumah.
Maharu Nemoto sebagai Midori
Maharu Nemoto memerankan Midori dan membawa karakter tersebut melalui penampilan yang natural. Film membutuhkan aktor anak yang mampu menyampaikan kecemasan tanpa harus selalu menjelaskannya melalui dialog.
Midori tetap mempunyai sisi seorang anak yang ingin bermain dan berbicara bersama teman. Namun, ekspresi serta perilakunya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terus membebani pikiran.
Karakter tersebut menjadi gambaran mengenai anak yang terlalu cepat belajar membaca kondisi emosional orang dewasa. Ia memahami lebih banyak daripada yang mungkin disadari ibunya.
Penampilan Midori menjadi penting karena film tidak menggunakan melodrama berlebihan. Banyak emosi justru muncul melalui aktivitas sederhana dan perubahan suasana kecil.
Futa dan Keluarga yang Tidak Stabil
Futa hidup dalam keluarga yang mempunyai persoalan berbeda dari Midori. Ayahnya tidak berada di rumah, sementara ibunya mempunyai keterlibatan kuat dengan aktivitas keagamaan.
Futa sering harus mengikuti kegiatan yang sebenarnya merupakan urusan orang dewasa. Keadaan tersebut membuat kehidupan masa kecilnya dipengaruhi keyakinan serta keputusan sang ibu.
Kakak perempuannya juga mulai menunjukkan sikap memberontak setelah memasuki masa remaja. Hubungan di rumah menjadi semakin sulit karena setiap anggota keluarga mempunyai tekanan masing-masing.
Futa tidak mempunyai banyak kendali terhadap keadaan tersebut. Ia hanya dapat mencoba bertahan dan menemukan tempat yang membuat dirinya merasa sedikit lebih nyaman.
Ryo Togawa sebagai Futa
Ryo Togawa memerankan Futa, anak laki-laki yang hidupnya berjalan paralel dengan Midori. Walaupun keduanya tidak langsung mempunyai hubungan sejak awal, pengalaman mereka terasa seperti dua variasi dari persoalan yang sama.
Futa menghadapi masalah dengan cara berbeda. Ia terlihat lebih banyak menyimpan perasaan dan mencari ruang aman di luar lingkungan rumah.
Penampilannya membantu memperlihatkan bagaimana seorang anak dapat terlihat biasa dari luar meskipun setiap hari harus menghadapi persoalan yang rumit.
Kontras antara Midori dan Futa menjadi kekuatan film. Keduanya mempunyai latar keluarga berbeda tetapi menghadapi rasa kesepian yang hampir serupa.
Dua Anak yang Dipisahkan Sungai
Midori dan Futa tinggal di dua kota berbeda yang dipisahkan oleh sebuah sungai. Secara geografis, mereka sebenarnya tidak terlalu jauh satu sama lain.
Namun, kehidupan keduanya berjalan tanpa hubungan langsung. Mereka pergi ke sekolah berbeda, mempunyai keluarga berbeda, dan tidak mengetahui masalah yang sedang dialami satu sama lain.
Pemisahan tersebut memberikan struktur menarik terhadap film. Cerita bergerak bergantian antara Midori dan Futa sehingga penonton dapat membandingkan kehidupan keduanya.
Sungai dapat dipahami sebagai batas yang memisahkan dua dunia sekaligus mengingatkan bahwa pengalaman serupa dapat terjadi sangat dekat tanpa pernah terlihat.
Anak-Anak yang Terjebak Masalah Orang Dewasa
Salah satu tema paling kuat dalam Born Pisces adalah bagaimana anak dapat terkena dampak masalah yang sebenarnya diciptakan orang dewasa. Midori dan Futa tidak mempunyai kemampuan menentukan keputusan keluarga.
Mereka tidak dapat memaksa seorang ayah pulang, mengubah hubungan orang tua, atau meminta orang dewasa berhenti membawa persoalan pribadi ke dalam kehidupan anak.
Namun, mereka tetap harus menghadapi akibatnya setiap hari. Suasana rumah, percakapan, kegiatan, dan perubahan emosi orang tua ikut memengaruhi cara mereka menjalani sekolah serta pertemanan.
Film tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk menunjukkan tekanan tersebut. Aktivitas kecil memperlihatkan bagaimana tanggung jawab emosional secara perlahan dipindahkan kepada anak.
Ketidakhadiran Sosok Ayah
Midori dan Futa mempunyai satu kesamaan penting: sosok ayah tidak hadir secara normal dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi tersebut menjadi salah satu hubungan paralel antara dua cerita.
Ayah Midori berada di luar negeri karena pekerjaan dan hampir tidak pernah kembali. Ketidakhadiran tersebut sangat memengaruhi kondisi emosional sang ibu.
Futa juga tumbuh tanpa kehadiran ayah di rumah. Situasi tersebut membuat ibunya menjalankan kehidupan keluarga melalui caranya sendiri.
Film tidak menyatakan bahwa keluarga tanpa ayah otomatis bermasalah. Fokusnya lebih kepada bagaimana ketidakhadiran tersebut berhubungan dengan keadaan spesifik yang kemudian membebani kedua anak.
Kesepian Midori
Midori mempunyai teman di sekolah, tetapi keberadaan teman tidak sepenuhnya menghilangkan rasa sepi. Masalah keluarga tetap mengikuti dirinya bahkan ketika sedang berada di luar rumah.
Ia memahami bahwa ibunya membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh seorang anak. Kesadaran tersebut dapat membuat Midori merasa tidak cukup meskipun sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Kesepian dalam film tidak selalu digambarkan melalui seorang karakter yang duduk sendirian. Seseorang dapat berada di tengah teman dan tetap merasa tidak mempunyai tempat untuk membicarakan persoalan sebenarnya.
Midori menunjukkan bagaimana seorang anak dapat menyembunyikan kecemasan agar kehidupan sehari-hari tetap terlihat normal.
Futa dan Pencarian Tempat Aman
Futa juga membutuhkan tempat yang membuat dirinya merasa diterima. Lingkungan rumah tidak selalu dapat memberikan rasa aman karena hubungan keluarga sedang mengalami tekanan.
Aktivitas ibunya membuat Futa ikut memasuki situasi dengan orang-orang yang tidak selalu ramah. Hal tersebut memperlihatkan betapa sedikit kontrol yang dimiliki dirinya terhadap kegiatan sehari-hari.
Ia mencoba menemukan hubungan di luar keluarga yang mampu memberikan sedikit ketenangan. Namun, kehidupan terus berubah dan tempat aman tidak selalu dapat bertahan.
Film memperlihatkan bahwa bagi seorang anak, kehilangan satu tempat sederhana untuk merasa nyaman dapat mempunyai dampak sangat besar.
Ibu Midori dan Kekosongan Emosional
Ibu Midori bukan sekadar karakter antagonis yang sengaja membuat kehidupan anaknya sulit. Ia sendiri sedang menghadapi kesepian serta persoalan hubungan dengan suaminya.
Masalah muncul ketika kondisi emosional tersebut mulai memengaruhi cara dirinya memperlakukan Midori. Anak kemudian harus membaca suasana hati ibunya sebelum menentukan cara bersikap.
Film menggambarkan hubungan tersebut tanpa memberikan penilaian terlalu sederhana. Sang ibu dapat mencintai Midori sekaligus tetap melakukan hal yang memberikan tekanan kepadanya.
Kompleksitas tersebut membuat cerita terasa realistis. Orang dewasa tidak selalu menyadari bahwa persoalan pribadi mereka sedang dipikul oleh anak.
Ibu Futa dan Keyakinan Agama
Ibu Futa sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Keyakinan tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap rutinitas keluarga dan kehidupan anak-anaknya.
Futa ikut berada dalam berbagai kegiatan karena keputusan ibunya. Ia belum mempunyai posisi yang cukup kuat untuk menentukan apakah ingin terlibat atau tidak.
Film menggunakan kondisi tersebut untuk membahas batas antara keyakinan pribadi orang tua dan kebebasan seorang anak. Apa yang dianggap benar oleh orang dewasa belum tentu dipahami melalui cara sama oleh anak.
Konflik tidak hanya berasal dari agama itu sendiri, melainkan dari cara keyakinan tersebut memengaruhi hubungan serta pilihan dalam keluarga.
Kakak Futa Mulai Memberontak
Kakak perempuan Futa telah memasuki sekolah menengah dan mulai menunjukkan sikap yang lebih menentang. Perubahan tersebut menambah ketegangan dalam keluarga.
Sebagai remaja, ia mempunyai kemampuan lebih besar untuk mempertanyakan keputusan sang ibu dibandingkan Futa. Sikap memberontaknya dapat dipahami sebagai usaha membentuk identitas sendiri.
Futa berada di tengah konflik tersebut tanpa benar-benar mempunyai kekuatan. Ia melihat pertengkaran dan perubahan hubungan sambil tetap harus menjalani kehidupan sebagai anak sekolah dasar.
Situasi tersebut menunjukkan bagaimana masalah satu anggota keluarga dapat memengaruhi seluruh rumah meskipun tidak semua orang terlibat secara langsung.
Sekolah Tidak Selalu Menjadi Tempat Pelarian
Sekolah dapat memberikan kesempatan kepada Midori dan Futa untuk berada jauh dari rumah selama beberapa jam. Namun, tempat tersebut tidak otomatis membuat seluruh persoalan menghilang.
Anak tetap membawa kondisi emosional dari rumah menuju ruang kelas. Kesulitan berkonsentrasi, mengikuti aktivitas, atau berinteraksi dapat mempunyai sumber yang tidak diketahui guru maupun teman.
Film memperlihatkan keterbatasan orang lain dalam membaca keadaan tersebut. Seorang anak dapat terlihat nakal, diam, atau tidak mengikuti aturan padahal sedang menghadapi tekanan keluarga.
Hal ini memberikan lapisan sosial terhadap cerita. Masalah keluarga sering tidak terlihat dari luar sampai perilaku seorang anak mulai berubah.
Keinginan agar Besok Menjadi Lebih Baik
Salah satu gagasan paling emosional dalam film adalah keinginan sederhana Midori dan Futa ketika akan tidur. Keduanya berharap setelah bangun, segala sesuatu dapat menjadi baik-baik saja.
Harapan tersebut sangat sesuai dengan cara anak memahami masalah yang berada di luar kemampuan mereka. Mereka tidak mempunyai strategi politik, finansial, atau psikologis untuk memperbaiki keluarga.
Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah berharap orang dewasa berubah atau keadaan memperbaiki dirinya sendiri.
Film menggunakan harapan tersebut tanpa memberikan solusi yang mudah. Hari berikutnya tetap datang, tetapi tidak selalu membawa kehidupan yang sepenuhnya berbeda.
Arti Judul Uoza-doshi
Judul Jepang 魚座どうし dapat diterjemahkan secara bebas sebagai dua orang yang sama-sama berzodiak Pisces atau “sesama Pisces.” Judul internasional kemudian menggunakan nama Born Pisces.
Penggunaan judul tersebut berkaitan dengan kesamaan antara dua karakter utama. Midori dan Futa menjalani kehidupan terpisah tetapi mempunyai kepekaan terhadap keadaan orang di sekitarnya.
Keduanya juga sering menerima dampak persoalan yang bukan mereka ciptakan. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan orang lain meskipun diri sendiri juga membutuhkan perlindungan.
Judul menjadi cara sederhana untuk menyatukan dua cerita paralel yang pada permukaan terlihat tidak mempunyai hubungan.
Dua Kehidupan yang Berjalan Paralel
Struktur film menggunakan kehidupan Midori dan Futa secara bergantian. Penonton melihat satu anak menghadapi masalah sebelum cerita berpindah kepada anak lain.
Cara tersebut menunjukkan bahwa kesulitan masa kecil tidak mempunyai satu bentuk. Midori menghadapi kondisi ibunya, sementara Futa berhadapan dengan dinamika keluarga dan keyakinan yang berbeda.
Meskipun detailnya tidak sama, keduanya mengalami hal serupa: mereka harus beradaptasi terhadap dunia orang dewasa tanpa mempunyai kekuasaan mengubahnya.
Paralel tersebut memberikan kekuatan emosional lebih besar daripada apabila cerita hanya berfokus pada satu keluarga.
Film Pendek dengan Cerita yang Padat
Born Pisces hanya mempunyai durasi sekitar 30 menit. Waktu yang singkat membuat film tidak dapat memberikan latar belakang panjang kepada setiap karakter.
Sebagai gantinya, Yoko Yamanaka menggunakan potongan kehidupan sehari-hari. Cara seorang anak bergerak, menunggu, berbicara, atau memperhatikan orang dewasa menjadi sumber informasi mengenai kondisi emosionalnya.
Pendekatan tersebut membuat cerita terasa seperti kumpulan momen kehidupan daripada drama dengan struktur konflik besar. Penonton secara perlahan menyusun keadaan melalui detail yang diberikan.
Durasi singkat justru membuat pengalaman terasa terkonsentrasi. Tidak banyak adegan yang hanya berfungsi sebagai pengisi.
Yoko Yamanaka sebagai Sutradara
Born Pisces ditulis dan disutradarai oleh Yoko Yamanaka. Ia merupakan sineas Jepang yang mendapatkan perhatian internasional melalui film debutnya, Amiko.
Yamanaka dikenal melalui ketertarikannya terhadap karakter muda dan cara mereka menghadapi lingkungan sosial yang tidak selalu nyaman. Dalam Born Pisces, perspektif tersebut diarahkan kepada anak sekolah dasar.
Film menggunakan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak terlalu memaksakan penjelasan. Penonton diberi ruang untuk memperhatikan perilaku karakter dan menentukan sendiri bagaimana persoalan keluarga memengaruhi mereka.
Kemampuan tersebut kemudian terus terlihat dalam perkembangan karier Yamanaka sebagai pembuat film Jepang generasi baru.
Hubungan Yoko Yamanaka dengan Amiko
Sebelum membuat Born Pisces, Yoko Yamanaka mendapatkan perhatian melalui Amiko. Film tersebut masuk PFF Award 2017 dan kemudian diputar di berbagai festival internasional.
Pengalaman tersebut membuat Yamanaka dikenal sebagai salah satu sutradara muda Jepang yang mempunyai pendekatan karakter sangat kuat.
Born Pisces mempertahankan sebagian ketertarikannya terhadap dunia orang muda, tetapi menggunakan karakter yang jauh lebih muda daripada protagonis Amiko.
Perubahan usia karakter menghasilkan perspektif berbeda. Midori dan Futa bahkan belum mempunyai kebebasan seorang remaja untuk meninggalkan lingkungan yang membuat mereka tidak nyaman.
Bagian dari Program ndjc 2019
Uoza-doshi diproduksi sebagai bagian dari program ndjc atau New Directions in Japanese Cinema tahun 2019. Program tersebut bertujuan mengembangkan pembuat film muda melalui produksi film pendek bersama kru profesional.
Yoko Yamanaka menjadi salah satu sutradara yang dipilih dalam program tersebut. Filmnya diproduksi melalui Office Shirous dengan rekomendasi dari PFF.
Proses ndjc memberikan kesempatan kepada sutradara bekerja dalam sistem produksi profesional sekaligus mempertahankan visi personal.
Born Pisces menjadi salah satu dari beberapa film pendek yang diselesaikan dalam program ndjc 2019 dan kemudian diputar dalam berbagai kegiatan perfilman.
Produksi dengan Film 35mm
Salah satu bagian penting dalam program ndjc adalah pengalaman produksi menggunakan sistem kerja profesional, termasuk pengambilan gambar dengan film 35mm untuk proyek pada periode tersebut.
Format tersebut memberikan karakter visual yang berbeda dari kamera digital modern. Tekstur gambar, cahaya, dan warna dapat terasa lebih organik.
Pendekatan visual tersebut sesuai dengan cerita yang menekankan keseharian. Kamera tidak perlu membuat kehidupan Midori dan Futa terlihat terlalu bergaya.
Hasilnya memberi kesan bahwa penonton sedang mengamati bagian kecil dari kehidupan dua anak yang benar-benar dapat ditemukan di lingkungan biasa.
Sinematografi yang Natural
Sinematografi film ditangani Kei Nakase. Kamera banyak digunakan untuk mengikuti karakter melalui ruang sehari-hari tanpa menciptakan jarak berlebihan.
Gerakan yang natural membantu penonton memperhatikan Midori dan Futa sebagai anak-anak, bukan hanya sebagai objek dalam drama keluarga.
Lingkungan sekolah, rumah, jalan, serta kawasan tempat tinggal mempunyai peran besar. Tempat-tempat tersebut memberikan gambaran mengenai dunia kecil tempat kedua karakter bergerak.
Visual tidak mencoba menjadikan masalah mereka terlalu melodramatis. Kesederhanaan justru membantu situasi terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Editing Masaya Okazaki
Masaya Okazaki menangani penyuntingan film. Karena cerita hanya mempunyai durasi sekitar setengah jam, ritme perpindahan antara Midori dan Futa menjadi sangat penting.
Kedua kehidupan harus memperoleh ruang yang cukup agar penonton memahami hubungan tematik di antara mereka. Penyuntingan membuat cerita dapat bergerak paralel tanpa terasa seperti dua film terpisah.
Potongan antaradegan juga membantu membangun kesamaan emosional. Kejadian berbeda dapat terasa berhubungan ketika ditempatkan berdekatan.
Pendekatan tersebut memperkuat gagasan bahwa dua anak yang tidak saling mengenal dapat menghadapi rasa yang hampir sama.
Musik Kazuya Wakabayashi
Musik film dikerjakan Kazuya Wakabayashi. Dalam drama naturalistik seperti Born Pisces, musik perlu digunakan dengan hati-hati agar tidak memaksa emosi penonton.
Suasana cerita lebih banyak dibentuk melalui aktivitas karakter, suara lingkungan, dan percakapan. Musik berfungsi mendukung daripada mengambil alih adegan.
Pendekatan tersebut sesuai dengan gaya Yoko Yamanaka yang memberi ruang terhadap detail keseharian.
Pemeran Born Pisces: Uoza-doshi
Maharu Nemoto memerankan Midori, sementara Ryo Togawa tampil sebagai Futa. Keduanya menjadi pusat dua alur paralel dalam film.
Kinuo Yamada, Saho Ito, Shinsuke Kato, dan Kazutaka Takahashi termasuk dalam jajaran pemeran dewasa yang mengelilingi kehidupan kedua anak.
Karakter dewasa mempunyai peran penting karena berbagai keputusan mereka secara langsung atau tidak langsung membentuk kehidupan Midori dan Futa.
Namun, sudut pandang utama tetap berada pada anak-anak. Orang dewasa lebih sering terlihat berdasarkan bagaimana tindakan mereka dirasakan oleh karakter muda.
Drama Keluarga dari Perspektif Anak
Banyak film keluarga menempatkan orang dewasa sebagai pusat dan anak hanya menjadi bagian dari konflik. Born Pisces mengambil arah sebaliknya.
Persoalan pernikahan, agama, pekerjaan, dan hubungan keluarga dilihat melalui orang-orang yang mempunyai kekuasaan paling sedikit untuk mengubahnya.
Anak tidak selalu memahami seluruh detail, tetapi mereka sangat mampu merasakan perubahan suasana. Ketegangan, kesedihan, dan kemarahan orang tua tetap memengaruhi mereka meskipun tidak diberikan penjelasan.
Perspektif tersebut membuat drama terasa kuat tanpa membutuhkan dialog yang menjabarkan setiap masalah.
Tema Masa Kecil yang Tidak Sepenuhnya Bebas
Film mempertanyakan apa arti menjadi anak-anak. Midori dan Futa seharusnya mempunyai ruang untuk belajar, bermain, berteman, dan membuat kesalahan kecil.
Kenyataannya, mereka harus memperhatikan masalah yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Dunia orang dewasa terus memasuki kehidupan masa kecil.
Film tidak mengatakan bahwa kebahagiaan sepenuhnya hilang. Masih terdapat momen normal, tetapi ketenangan tersebut selalu berada dekat dengan persoalan rumah.
Kontras tersebut menjadi salah satu sumber kesedihan terbesar dalam cerita.
Tema Parentification secara Tidak Langsung
Salah satu cara membaca perjalanan Midori adalah melalui keadaan ketika seorang anak mulai merasa bertanggung jawab terhadap kondisi emosional orang tua. Situasi seperti ini sering membuat batas antara peran anak dan orang dewasa menjadi kabur.
Midori menyadari kesedihan ibunya dan memahami bahwa dirinya tidak mampu mengisi kekosongan tersebut. Kesadaran seperti itu sudah menjadi beban besar bagi seorang anak.
Futa juga harus beradaptasi terhadap aktivitas serta keputusan ibunya, meskipun seharusnya orang tua menjadi pihak yang memberikan perlindungan.
Film tidak menggunakan istilah psikologis secara eksplisit, tetapi perilaku karakter membuka ruang untuk melihat bagaimana tanggung jawab emosional dapat berpindah kepada anak.
Tema Ketidakberdayaan
Midori dan Futa mempunyai keinginan tetapi sedikit kekuasaan. Mereka dapat berharap keadaan berubah, tetapi sebagian besar keputusan berada di tangan orang dewasa.
Ketidakberdayaan tersebut membuat tindakan kecil terasa penting. Anak mencari cara untuk menciptakan sedikit kontrol terhadap rutinitas maupun perasaan sendiri.
Film memperlihatkan bahwa menjadi anak bukan selalu keadaan tanpa beban. Ketika orang dewasa di sekitar tidak stabil, seorang anak dapat merasa harus selalu membaca keadaan.
Perasaan tersebut memberi film suasana tidak nyaman meskipun hampir seluruh peristiwanya berasal dari kehidupan sehari-hari.
Tema Kesamaan di Tengah Kehidupan yang Berbeda
Midori dan Futa tidak berasal dari keluarga yang sama dan tidak mempunyai pengalaman identik. Namun, keduanya merasa kurang mempunyai tempat untuk bergantung.
Kesamaan tersebut menjadi inti struktur film. Dua kehidupan dapat berjalan di sisi berlawanan sungai dan tetap menghasilkan emosi yang mirip.
Film menunjukkan bahwa masalah anak sering tersembunyi di balik lingkungan yang terlihat biasa. Kita mungkin melewati seseorang setiap hari tanpa mengetahui beban yang sedang dibawanya.
Gagasan tersebut membuat Born Pisces terasa lebih luas daripada kisah dua keluarga tertentu.
Tema Harapan
Meskipun film membawa suasana yang cukup berat, Midori dan Futa tetap mempunyai harapan. Mereka masih membayangkan bahwa keadaan dapat berubah menjadi lebih baik.
Harapan anak sering sangat sederhana. Tidak dibutuhkan solusi besar; mereka hanya ingin rumah terasa aman dan orang-orang yang dicintai tidak lagi terlihat menderita.
Film tidak memberikan jawaban mudah mengenai apakah semua keinginan tersebut akan terpenuhi. Justru ketidakpastian tersebut membuat pengalamannya terasa jujur.
Hari berikutnya akan tetap datang, dan kedua anak harus kembali menghadapi dunia dengan kemampuan yang mereka miliki.
Genre Drama dan Film Pendek
Born Pisces merupakan drama pendek dengan durasi sekitar 30 menit. Film tidak mempunyai unsur aksi, fantasi, atau misteri konvensional.
Konfliknya berasal dari keluarga dan kehidupan sosial. Ketegangan tumbuh melalui perubahan perilaku orang dewasa serta dampaknya terhadap anak.
Pendekatan naturalistik membuat film terasa seperti potret kehidupan. Penonton tidak diarahkan menuju satu klimaks spektakuler.
Justru detail kecil menjadi bagian yang paling penting dan dapat meninggalkan kesan setelah film selesai.
Tanggal Rilis dan Durasi
Uoza-doshi merupakan produksi Jepang tahun 2020 dan mempunyai durasi resmi sekitar 30 menit. Film menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa utama.
Perilisan bioskop Jepang tercatat berlangsung pada 21 Februari 2020 sebagai bagian dari program karya ndjc 2019 di Kadokawa Cinema Yurakucho.
Film mempunyai klasifikasi G di Jepang, sehingga secara klasifikasi dapat ditonton berbagai usia. Namun, tema keluarga dan tekanan emosionalnya mungkin terasa lebih mudah dipahami oleh penonton yang lebih dewasa.
Setelah perilisan awal, film juga memperoleh kesempatan tampil melalui program khusus dan festival di Jepang maupun internasional.
Born Pisces di Festival Internasional
Born Pisces memperoleh pemutaran di luar Jepang setelah penyelesaian program ndjc. Film tersebut termasuk dalam program Japan Cuts yang membawa karya-karya Jepang kepada penonton internasional.
Film juga tercantum dalam rangkaian karya Jepang pada Fantasia International Film Festival tahun 2021. Kehadiran tersebut membantu memperkenalkan Yoko Yamanaka kepada penonton yang lebih luas.
Format pendek membuat film dapat diprogram bersama berbagai karya lain, tetapi temanya tetap mempunyai identitas yang kuat.
Perjalanan festival memperlihatkan bahwa cerita sangat lokal mengenai dua anak Jepang tetap dapat dipahami melalui pengalaman universal mengenai keluarga dan kesepian.
Hubungan Film dengan Karier Yoko Yamanaka
Born Pisces merupakan bagian penting dari perjalanan awal Yoko Yamanaka setelah keberhasilan Amiko. Film tersebut memberinya pengalaman bekerja dengan kru profesional melalui sistem ndjc.
Yamanaka kemudian terus mengembangkan karier melalui berbagai karya televisi serta film. Pendekatannya terhadap karakter muda dan hubungan yang tidak stabil tetap menjadi salah satu ciri menarik.
Film ini juga menarik untuk ditonton setelah karya-karya Yamanaka yang lebih baru karena menunjukkan perkembangan awal gaya penyutradaraannya.
Daya Tarik Born Pisces: Uoza-doshi
Daya tarik utama film berada pada kemampuannya menciptakan emosi kuat hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Cerita tidak membutuhkan banyak karakter atau lokasi untuk memberikan dampak.
Maharu Nemoto dan Ryo Togawa memberikan penampilan yang natural sebagai dua anak yang harus membaca dunia orang dewasa sebelum waktunya.
Struktur paralel memberikan perspektif menarik. Penonton melihat bahwa kesepian dapat muncul dalam keluarga yang mempunyai masalah sangat berbeda.
Gaya visual yang sederhana serta pendekatan Yoko Yamanaka membuat film terasa lebih dekat dengan kehidupan daripada melodrama konvensional.
Apakah Born Pisces Layak Ditonton?
Born Pisces: Uoza-doshi layak dipertimbangkan oleh penonton yang menyukai drama Jepang pendek dengan pendekatan realistis. Film lebih berfokus pada karakter dan suasana daripada plot yang penuh kejutan.
Penonton yang tertarik pada cerita mengenai keluarga dan masa kecil dapat menemukan banyak hal untuk dipikirkan. Perspektif Midori serta Futa memperlihatkan dampak keputusan orang dewasa melalui cara yang sederhana tetapi efektif.
Film juga menarik bagi penonton yang mengikuti karya Yoko Yamanaka. Durasi singkatnya memberikan gambaran mengenai gaya sutradara sebelum berbagai proyeknya yang lebih besar.
Meskipun hanya berdurasi setengah jam, film mempunyai tema yang cukup berat mengenai kesepian, keluarga yang retak, dan anak yang berusaha mencari tempat aman.
Kesimpulan
Born Pisces: Uoza-doshi (2020) mengikuti Midori dan Futa, dua anak kelas empat SD yang tinggal di kota berbeda di seberang sebuah sungai. Mereka tidak mempunyai kehidupan yang sama, tetapi keduanya dipaksa menghadapi persoalan keluarga yang sebenarnya berada di luar kendali seorang anak.
Midori hidup bersama ibu yang merasa kesepian karena suaminya jarang pulang, sementara Futa tumbuh tanpa ayah di rumah dan menghadapi pengaruh kuat kegiatan keagamaan ibunya serta perubahan sikap kakaknya. Kedua perjalanan tersebut menggambarkan masa kecil yang terus diganggu oleh keputusan orang dewasa.
Dengan arahan dan skenario Yoko Yamanaka, penampilan Maharu Nemoto, Ryo Togawa, Kinuo Yamada, Saho Ito, Shinsuke Kato dan para pemain lainnya, film pendek ini menawarkan drama naturalistik mengenai keluarga, kesepian, dan harapan sederhana seorang anak agar hari esok menjadi lebih baik. Penonton yang ingin mengikuti kehidupan Midori dan Futa dapat nonton Born Pisces: Uoza-doshi (2020) hingga selesai.
