The Priest: Thanksgiving Massacre (2025)
The Priest: Thanksgiving Massacre merupakan film horor slasher bertema Thanksgiving tahun 2025 yang menggabungkan kisah keluarga terasing, kabin terpencil, kanibalisme, serta teror supernatural. Ditulis dan disutradarai Steve Lawson, film ini mengikuti sebuah keluarga yang berkumpul untuk merayakan Thanksgiving tanpa mengetahui bahwa lokasi tempat mereka menginap mempunyai sejarah mengerikan yang berasal dari sekitar empat abad sebelumnya. Penonton dapat mengunjungi halaman nonton The Priest: Thanksgiving Massacre (2025) untuk mengikuti bagaimana pertemuan keluarga tersebut berubah menjadi perjuangan hidup ketika Reverend Fuller bangkit kembali dan melanjutkan teror lamanya.
nonton The Priest: Thanksgiving Massacre (2025)
The Priest: Thanksgiving Massacre menggunakan Thanksgiving sebagai latar untuk cerita slasher dan supernatural. Perayaan yang biasanya identik dengan makan malam keluarga, kebersamaan, serta rasa syukur justru berubah menjadi malam penuh ketakutan.
Film membawa sekelompok anggota keluarga menuju sebuah kabin yang terisolasi. Mereka berharap dapat menghabiskan waktu bersama, tetapi tidak mengetahui bahwa tanah tempat kabin tersebut berdiri menyimpan sejarah pembunuhan dan kanibalisme.
Ancaman berasal dari Reverend Fuller, seorang tokoh dari masa lalu yang pernah kehilangan kewarasan ketika menghadapi musim dingin ekstrem. Ratusan tahun setelah kematiannya, keberadaannya kembali mengancam siapa pun yang tinggal di lokasi tersebut.
Sinopsis The Priest: Thanksgiving Massacre
Cerita dimulai sekitar empat ratus tahun sebelum peristiwa utama film. Reverend Fuller termasuk di antara para pemukim awal yang berusaha bertahan hidup di Amerika dalam lingkungan yang keras dan terpencil.
Musim dingin yang brutal membawa kelaparan serta tekanan mental. Dalam keadaan tersebut, Fuller perlahan kehilangan kewarasan dan terjerumus ke dalam pembunuhan serta kanibalisme di kabin kecil tempat dirinya bertahan hidup.
Berabad-abad kemudian, sebuah keluarga yang hubungannya tidak terlalu harmonis berkumpul untuk merayakan Thanksgiving di sebuah kabin terpencil. Mereka tidak mengetahui bahwa bangunan tersebut berdiri di lokasi yang mempunyai hubungan langsung dengan kejahatan Fuller.
Keadaan semakin buruk ketika sisa-sisa sang Reverend yang berada di sekitar lokasi terganggu. Kejahatan lama yang selama berabad-abad tersembunyi kemudian kembali bangkit.
Fuller kembali melanjutkan pembunuhan. Anggota keluarga yang datang dengan persoalan pribadi masing-masing kini harus mencari cara untuk bertahan ketika mereka berubah menjadi sasaran berikutnya.
Reverend Fuller sebagai Sumber Teror
Reverend Fuller merupakan pusat horor dalam film. Ia bukan hanya seorang pembunuh, tetapi figur dari masa lalu yang kehidupannya berubah menjadi legenda mengerikan akibat kelaparan, kegilaan, dan kanibalisme.
Kisah masa lalunya memberikan alasan mengapa lokasi kabin mempunyai reputasi gelap. Kejahatan yang dilakukan Fuller tidak benar-benar hilang meskipun ratusan tahun telah berlalu.
Kebangkitannya membuat film bergerak dari drama keluarga menuju horor supernatural. Para karakter tidak sedang menghadapi pembunuh biasa yang dapat dihentikan dengan mudah.
Mark Topping sebagai Reverend Fuller
Mark Topping memerankan Reverend Fuller. Karakter tersebut tampil sebagai ancaman utama dan mempunyai penampilan yang sesuai dengan konsep seorang pemukim lama yang kembali dari kematian.
Topping sebelumnya juga tampil dalam sejumlah produksi horor serta film independen Inggris. Dalam film ini, penampilannya menjadi bagian utama dari identitas visual cerita.
Reverend Fuller tidak membutuhkan motivasi rumit pada masa kini. Dorongan kekerasan dan kanibalisme yang pernah menghancurkan kehidupannya kembali muncul setelah dirinya dibangkitkan.
Kisah Empat Ratus Tahun Sebelumnya
Latar masa lalu memberi film elemen historical horror. Sebelum keluarga modern tiba, penonton diperkenalkan dengan kondisi yang menciptakan legenda Fuller.
Kelaparan menjadi faktor penting. Dalam lingkungan tanpa persediaan makanan, perlindungan memadai, atau bantuan dari masyarakat besar, rasa putus asa dapat mendorong seseorang menuju tindakan ekstrem.
Film kemudian menghubungkan masa lalu tersebut dengan masa kini. Tempat yang terlihat seperti kabin liburan biasa ternyata berdiri di atas sejarah yang jauh lebih mengerikan.
Kabin Terpencil sebagai Lokasi Utama
Kabin menjadi salah satu elemen penting dalam membangun ketegangan. Lokasi yang jauh dari keramaian berarti bantuan tidak mudah diperoleh ketika ancaman mulai muncul.
Pada awalnya, keterpencilan memberikan suasana yang sesuai untuk pertemuan keluarga. Mereka dapat menghabiskan Thanksgiving tanpa gangguan dunia luar.
Namun, ketika Fuller kembali, keuntungan tersebut berubah menjadi masalah besar. Jarak dari masyarakat membuat anggota keluarga harus mengandalkan kemampuan mereka sendiri.
Thanksgiving yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Penggunaan Thanksgiving menciptakan kontras yang kuat. Hari yang seharusnya dipenuhi makanan, keluarga, dan kebersamaan malah berubah menjadi peristiwa berdarah.
Konsep makan malam juga memperoleh makna gelap karena sejarah Reverend Fuller berhubungan dengan kanibalisme. Kalimat bahwa keluarga tersebut berada “on the menu” menjadi permainan kata yang sangat sesuai dengan premis film.
Perpaduan antara tradisi perayaan dan teror membuat film masuk ke kelompok holiday horror seperti berbagai produksi yang menggunakan Halloween, Natal, Valentine, atau hari libur lainnya sebagai latar.
Keluarga yang Sudah Memiliki Konflik
Sinopsis film menggambarkan keluarga yang berkumpul sebagai keluarga yang terasing atau tidak sepenuhnya akur. Artinya, mereka sudah membawa persoalan hubungan sebelum ancaman supernatural muncul.
Kondisi tersebut memberikan lapisan konflik tambahan. Mereka harus mencoba bertahan hidup bersama orang-orang yang mungkin belum sepenuhnya mereka percaya atau sukai.
Ketika keadaan berubah menjadi berbahaya, konflik pribadi menjadi tidak lagi penting dibandingkan kebutuhan untuk tetap hidup. Namun, tekanan ekstrem juga dapat memperburuk pertengkaran yang sebelumnya telah ada.
Andi sebagai Salah Satu Anggota Keluarga
Andi merupakan salah satu karakter utama yang berada di kabin ketika teror dimulai. Karakter tersebut dimainkan Holly Higbee.
Sebagai bagian dari kelompok yang berkumpul untuk Thanksgiving, Andi harus menghadapi perubahan suasana dari pertemuan keluarga menjadi situasi survival. Ancaman Reverend Fuller membuat setiap bagian rumah dapat berubah menjadi tempat berbahaya.
Holly Higbee termasuk salah satu nama yang ditempatkan di bagian utama jajaran pemeran film bersama Jo Krayer dan Brooklyn Ross.
Holly Higbee sebagai Andi
Holly Higbee memerankan Andi dalam The Priest: Thanksgiving Massacre. Ia menjadi bagian dari ensemble yang membawa konflik keluarga pada bagian awal sebelum horor mengambil alih cerita.
Dalam film dengan lokasi terbatas, interaksi antaraktor mempunyai peran besar karena sebagian besar ketegangan berkembang di sekitar lingkungan yang sama. Hubungan karakter perlu terasa cukup jelas agar ancaman terhadap mereka mempunyai dampak.
Tom dalam The Priest: Thanksgiving Massacre
Tom merupakan karakter yang diperankan Jo Krayer. Ia termasuk salah satu anggota kelompok yang berada dalam situasi berbahaya setelah Reverend Fuller kembali.
Seperti karakter lainnya, Tom masuk ke lokasi tanpa memahami sejarah sebenarnya dari kabin. Ketidaktahuan tersebut membuat kelompok tidak mempunyai persiapan untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
Jo Krayer menjadi salah satu dari tiga nama utama yang ditampilkan IMDb bersama Holly Higbee dan Brooklyn Ross.
Noah sebagai Bagian dari Keluarga
Brooklyn Ross tampil sebagai Noah. Karakter tersebut merupakan bagian dari kelompok yang berkumpul di kabin untuk perayaan Thanksgiving.
Ketika ancaman mulai muncul, Noah harus berhadapan dengan sesuatu yang awalnya mungkin terdengar seperti legenda atau sejarah lama. Namun, kebangkitan Reverend Fuller mengubah cerita tersebut menjadi ancaman nyata.
Kehadiran karakter dari usia dan kepribadian berbeda membantu membangun dinamika keluarga yang lebih bervariasi selama situasi survival.
Sara dalam Konflik Thanksgiving
Dani Thompson memerankan Sara dan menjadi salah satu nama yang paling menonjol dalam materi distribusi film. Apple TV dan Prime Video menempatkannya sebagai salah satu pemeran utama bersama Mark Topping dan Liz Soutar.
Sara terjebak dalam lingkungan yang semakin tidak aman ketika Fuller mulai berburu penghuni kabin. Seperti karakter lain, dirinya harus memahami bahwa ancaman yang mereka hadapi memiliki hubungan dengan sejarah lokasi tersebut.
Dani Thompson dikenal melalui berbagai produksi horor independen Inggris. Kehadirannya sesuai dengan pendekatan low-budget genre yang digunakan film.
Cyndy yang Diperankan Liz Soutar
Liz Soutar memerankan Cyndy. Ia turut menjadi bagian penting dari kelompok karakter masa kini yang menjadi sasaran Reverend Fuller.
Cyndy berfungsi memperluas dinamika keluarga dalam kabin. Ketika anggota kelompok mulai menyadari bahwa mereka sedang diburu, hubungan di antara mereka diuji oleh rasa takut serta keinginan untuk menyelamatkan diri.
Liz Soutar sebelumnya juga tampil dalam produksi independen seperti Powertool Cheerleaders vs the Boyband of the Screeching Dead.
Abigail Fuller
Melody Smith tercatat memerankan Abigail Fuller. Nama keluarga tersebut memberikan hubungan langsung dengan sejarah Reverend Fuller dan memperluas sisi masa lalu yang menjadi dasar teror film.
Karakter ini membantu menunjukkan bahwa kisah Fuller bukan sekadar legenda tanpa hubungan manusia. Ada kehidupan serta orang-orang lain yang terpengaruh oleh kegilaan dan kekerasannya.
Pemain The Priest: Thanksgiving Massacre
Jajaran pemeran utama mencakup Holly Higbee sebagai Andi, Jo Krayer sebagai Tom, Brooklyn Ross sebagai Noah, Dani Thompson sebagai Sara, Liz Soutar sebagai Cyndy, dan Mark Topping sebagai Reverend Fuller.
Melody Smith tampil sebagai Abigail Fuller. Dengan jumlah karakter yang relatif terbatas, film dapat mempertahankan perhatian pada satu keluarga dan ancaman yang berada di sekitar kabin.
Struktur ensemble seperti ini sering digunakan dalam slasher karena penonton terus dibuat bertanya siapa yang mampu bertahan dan siapa yang akan menjadi korban berikutnya.
Steve Lawson sebagai Sutradara
The Priest: Thanksgiving Massacre disutradarai oleh Steve Lawson. Ia merupakan pembuat film Inggris yang telah mengerjakan sejumlah produksi horor, thriller, sejarah, dan film berbiaya independen.
Filmografinya mencakup judul seperti Ripper Untold, The Mummy: Resurrection, Ripper’s Revenge, Wrath of Dracula, dan Ship of the Damned.
Lawson sering bekerja dengan lokasi terbatas serta konsep genre yang langsung. Dalam film ini, dirinya menggunakan sebuah kabin, kelompok kecil karakter, serta monster supernatural sebagai pusat cerita.
Steve Lawson sebagai Penulis Skenario
Selain menyutradarai, Steve Lawson juga menulis skenario. Hal tersebut membuat konsep mengenai Reverend Fuller, sejarah kabin, dan keluarga Thanksgiving berasal dari visi kreatif yang sama.
Naskah menggabungkan dua periode waktu. Masa lalu menjelaskan bagaimana Fuller berubah menjadi pembunuh kanibal, sedangkan masa kini memperlihatkan akibat setelah kejahatan tersebut kembali dibangkitkan.
Pendekatan ini memberi film mitologi sederhana tanpa membutuhkan penjelasan panjang. Penonton mengetahui siapa ancamannya, dari mana ia berasal, dan mengapa lokasi tersebut berbahaya.
Jon O’Neill sebagai Sinematografer
Jon O’Neill tercatat sebagai director of photography atau sinematografer. Ia sebelumnya juga bekerja dalam sejumlah produksi Steve Lawson, termasuk Ship of the Damned, The Fourth Musketeer, The Highwayman, dan Ripper Untold.
Sinematografi film horor dengan lokasi kabin membutuhkan penggunaan pencahayaan yang mampu membuat ruangan sederhana terasa tidak aman. Bayangan, lorong, pintu, dan ruang sempit dapat digunakan untuk menyembunyikan ancaman.
Film menggunakan aspect ratio 2.35:1, memberikan tampilan widescreen yang membantu memperlihatkan lingkungan serta komposisi beberapa karakter dalam satu bingkai.
May Monteiro dan Jeremy Rothwell sebagai Produser
May Monteiro dan Jeremy Rothwell termasuk dalam jajaran produser eksekutif film. Keduanya terlibat dalam membawa proyek produksi Creativ Studios menuju tahap distribusi.
Apple TV juga mencantumkan May Monteiro dan Jeremy Rothwell dalam bagian produser. Film kemudian didistribusikan melalui High Fliers Films.
Produksi Creativ Studios
The Priest: Thanksgiving Massacre diproduksi oleh Creativ Studios. Perusahaan tersebut menjadi rumah produksi untuk sejumlah film independen Inggris.
Film ini menggunakan bahasa Inggris dan tercatat sebagai produksi asal Inggris meskipun ceritanya menggunakan Thanksgiving serta sejarah pemukim Amerika sebagai latar.
Pemilihan Thanksgiving memberikan film daya tarik untuk pasar horor internasional, khususnya karena holiday horror mempunyai penonton tersendiri di Amerika Utara.
High Fliers Films sebagai Distributor
High Fliers Films menangani distribusi film di beberapa pasar. Apple TV mencantumkan High Fliers sebagai studio distribusi, sementara BBFC mencatat High Fliers Films Ltd. untuk perilisan home entertainment.
Film kemudian tersedia melalui layanan digital serta media fisik. Bentuk distribusi tersebut sesuai dengan skala produksi independen yang mengandalkan VOD, penyewaan, pembelian digital, DVD, dan Blu-ray.
Holiday Horror Bertema Thanksgiving
Thanksgiving memberikan identitas berbeda dibandingkan film slasher berlatar Halloween atau Natal. Makanan serta tradisi keluarga dapat digunakan sebagai bagian langsung dari lelucon gelap mengenai kanibalisme.
Film sengaja membalik konsep Thanksgiving dinner. Anggota keluarga yang seharusnya duduk menikmati makanan justru berubah menjadi calon “hidangan” bagi pembunuh dari masa lalu.
Rotten Tomatoes mengategorikan film dalam genre Holiday, Horror, serta Mystery & Thriller. Kombinasi tersebut menggambarkan perpaduan perayaan, pembunuhan, dan misteri mengenai sejarah lokasi.
Unsur Slasher dalam Cerita
Meskipun mempunyai latar supernatural, struktur film dekat dengan slasher. Satu sosok pembunuh memburu kelompok karakter di lokasi yang sulit ditinggalkan.
Reverend Fuller menggunakan kekerasan fisik untuk meneror korbannya. Adegan pembunuhan serta detail luka menjadi bagian penting dari materi horor.
Ketegangan muncul dari pertanyaan mengenai siapa yang akan menjadi korban berikutnya serta apakah ada anggota keluarga yang dapat menemukan cara menghentikan Fuller.
Unsur Zombie dan Supernatural
BBFC menggambarkan ancaman utama film sebagai seorang pembunuh zombie yang memburu keluarga di kabin. Deskripsi tersebut memperjelas bahwa Fuller setelah bangkit tidak lagi sekadar manusia biasa.
Elemen supernatural memberikan kebebasan bagi cerita untuk membawa seorang tokoh dari empat abad sebelumnya ke zaman modern. Kebangkitannya menjadi jembatan antara prolog sejarah dan peristiwa Thanksgiving.
Karakter zombie juga membuat kemampuan bertahan Fuller berbeda dari pembunuh manusia biasa. Para korban tidak dapat mengasumsikan bahwa cara sederhana untuk menghentikan seseorang akan bekerja terhadapnya.
Kanibalisme sebagai Bagian dari Horor
Kanibalisme menjadi unsur penting dalam sejarah Reverend Fuller. Ketika menghadapi musim dingin dan kelaparan, ia melewati batas moral sampai akhirnya berubah menjadi pembunuh.
Setelah kembali dari kematian, perilaku tersebut tidak hilang. Ancaman terhadap keluarga modern mempunyai hubungan langsung dengan apa yang pernah dilakukannya berabad-abad sebelumnya.
Film menggunakan tema ini dengan cara yang sengaja provokatif karena peristiwa berlangsung pada Thanksgiving, hari yang identik dengan pesta makanan.
Tema Masa Lalu yang Tidak Pernah Benar-Benar Mati
Salah satu gagasan yang dapat dibaca dari premis film adalah bahwa sejarah gelap dapat kembali ketika sengaja dilupakan atau tidak diketahui. Keluarga modern memasuki kabin tanpa memahami apa yang pernah terjadi di lokasi tersebut.
Sisa-sisa Fuller yang tersembunyi menghubungkan dua periode waktu. Ketika keberadaannya terganggu, masa lalu secara harfiah kembali menguasai masa kini.
Konsep tersebut cukup umum dalam horor supernatural, tetapi penggunaan sejarah pemukim dan Thanksgiving memberikan variasi tersendiri.
Tema Konflik Keluarga
Keluarga yang berkumpul dalam film digambarkan mempunyai hubungan yang renggang. Mereka datang ke kabin dengan masalah yang sudah ada sebelum Reverend Fuller bangkit.
Ancaman kemudian memaksa mereka menghadapi persoalan yang jauh lebih serius. Konflik lama menjadi tidak relevan ketika keselamatan setiap anggota berada dalam bahaya.
Dalam situasi survival, rasa percaya sangat penting. Orang yang sebelumnya mempunyai perbedaan harus menentukan apakah mereka dapat bekerja sama ketika berhadapan dengan pembunuh supernatural.
Makna Judul The Priest: Thanksgiving Massacre
Judul film secara langsung menggambarkan dua elemen utamanya. “The Priest” merujuk kepada Reverend Fuller yang menjadi sumber teror.
“Thanksgiving Massacre” menggambarkan peristiwa pembantaian yang terjadi ketika keluarga sedang mencoba merayakan Thanksgiving. Gabungan keduanya memberikan informasi genre bahkan sebelum penonton mengetahui sinopsis.
Judul yang sangat langsung sesuai dengan gaya exploitation dan low-budget horror yang ingin segera menjelaskan jenis tontonan yang ditawarkan.
Durasi The Priest: Thanksgiving Massacre
Film mempunyai durasi sekitar 83 menit atau satu jam 23 menit. BBFC mencatat versi home entertainment sepanjang 82 menit 58 detik.
Durasi tersebut relatif ringkas untuk film horor. Cerita dapat bergerak dari pengenalan keluarga menuju sejarah Reverend Fuller dan rangkaian pembunuhan tanpa terlalu banyak subplot.
Apple TV dan Rotten Tomatoes sama-sama mencatat durasi satu jam 23 menit.
Klasifikasi Usia dan Konten
BBFC memberikan klasifikasi usia 15 untuk perilisan Inggris. Panduan kontennya menyebut kekerasan kuat, detail luka, bunuh diri, bahasa kasar, dan ketelanjangan.
Film juga menampilkan adegan ancaman serta korban yang diburu oleh sosok zombie. Unsur darah dan kanibalisme membuatnya lebih ditujukan kepada penonton remaja akhir serta dewasa.
Apple TV di Inggris juga mencantumkan rating 15, sementara beberapa platform internasional mencatat film sebagai unrated atau menggunakan klasifikasi regional berbeda.
Bahasa dan Negara Produksi
Bahasa utama film adalah bahasa Inggris. Rotten Tomatoes secara khusus mencatat bahasa aslinya sebagai British English.
Apple TV mencatat wilayah asal sebagai United Kingdom dan hak cipta film berada di bawah Creativ Studios Ltd. tahun 2025.
Meskipun merupakan produksi Inggris, ceritanya mengadaptasi suasana Thanksgiving serta sejarah pemukim Amerika sebagai bagian utama premis.
Jadwal Rilis The Priest: Thanksgiving Massacre
Film mulai beredar pada 2025 melalui beberapa jalur distribusi. Sejumlah katalog Amerika mencatat ketersediaan digital mulai 8 Agustus 2025.
Di Inggris, BBFC mengklasifikasikan versi home entertainment pada 3 September 2025. IMDb kemudian mencatat perilisan internet dan DVD Inggris pada 17 November 2025.
Perbedaan tanggal tersebut mencerminkan distribusi yang tidak seragam antara pasar, layanan digital, dan media fisik.
Ketersediaan Digital
Film tersedia melalui berbagai layanan VOD di sejumlah negara. Platform yang tercatat menawarkan opsi sewa atau pembelian termasuk Prime Video, Apple TV, Google Play, dan layanan digital lainnya tergantung wilayah.
Ketersediaan dapat berubah karena hak distribusi berbeda di setiap negara. Beberapa layanan menawarkan pembelian digital, sedangkan platform lain hanya menyediakan sewa atau akses melalui katalog tertentu.
Penerimaan Penonton
The Priest: Thanksgiving Massacre merupakan produksi independen dengan jangkauan ulasan kritikus yang relatif terbatas. Rotten Tomatoes belum mencatat cukup ulasan profesional untuk memberikan skor Tomatometer.
IMDb mencatat rating pengguna di kisaran 3,9 dari 10 pada Agustus 2026. Angka tersebut dapat berubah karena jumlah penilaian akan terus bertambah seiring film ditemukan penonton baru.
Film seperti ini umumnya lebih ditujukan kepada penggemar low-budget horror, slasher, dan tontonan bertema hari libur daripada penonton yang mencari produksi studio berskala besar.
Apakah The Priest: Thanksgiving Massacre Layak Ditonton?
Film ini dapat menjadi pilihan bagi penggemar holiday horror yang ingin mencari tema selain Halloween dan Natal. Kombinasi Thanksgiving dengan kisah pembunuh kanibal memberi premis yang sederhana tetapi mudah dikenali.
Mark Topping sebagai Reverend Fuller menjadi pusat ancaman, sedangkan Holly Higbee, Jo Krayer, Brooklyn Ross, Dani Thompson, Liz Soutar, dan Melody Smith membentuk kelompok karakter yang berada di sekeliling konflik.
Durasi sekitar 83 menit membuat ceritanya relatif ringkas. Penonton tidak perlu mengikuti mitologi yang terlalu panjang sebelum ancaman mulai menguasai kabin.
Film ini lebih cocok bagi penonton yang menikmati produksi horor independen, lokasi terbatas, efek berdarah, zombie, pembunuhan, serta humor gelap daripada mereka yang mengharapkan skala visual blockbuster.
Kesimpulan
The Priest: Thanksgiving Massacre (2025) membawa sebuah keluarga yang telah lama memiliki masalah menuju kabin terpencil untuk merayakan Thanksgiving. Tanpa mereka ketahui, lokasi tersebut mempunyai sejarah mengerikan yang bermula sekitar empat ratus tahun sebelumnya ketika Reverend Fuller jatuh ke dalam kegilaan, pembunuhan, dan kanibalisme.
Setelah sisa-sisa Fuller terganggu, sang Reverend kembali dari kematian dan melanjutkan terornya. Pertemuan keluarga kemudian berubah menjadi perjuangan bertahan hidup ketika para penghuni kabin menyadari bahwa mereka kini menjadi calon korban berikutnya.
Dengan arahan dan skenario Steve Lawson serta penampilan Mark Topping, Holly Higbee, Jo Krayer, Brooklyn Ross, Dani Thompson, Liz Soutar, dan Melody Smith, film ini menawarkan perpaduan holiday horror, slasher, zombie, kanibalisme, dan supernatural dalam durasi sekitar 83 menit. Penonton yang ingin mengikuti teror Reverend Fuller dapat mengunjungi halaman nonton The Priest: Thanksgiving Massacre (2025) hingga akhir.
