Laboratory Conditions (2018)
Laboratory Conditions merupakan film pendek horor fiksi ilmiah yang mengangkat pertanyaan besar mengenai kematian, kesadaran, jiwa, serta batas antara ilmu pengetahuan dan keyakinan. Disutradarai Jocelyn Stamat dan dibintangi Marisa Tomei, Minnie Driver, serta Paulo Costanzo, cerita mengikuti seorang dokter yang mencari pasiennya yang hilang sebelum menemukan sebuah eksperimen ilegal dengan tujuan yang jauh lebih mengganggu daripada yang ia bayangkan. Penonton dapat mengunjungi halaman nonton Laboratory Conditions (2018) untuk mengikuti perdebatan menegangkan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada manusia ketika kehidupan berakhir.
nonton Laboratory Conditions (2018)
Laboratory Conditions membangun ceritanya dengan premis sederhana tetapi penuh pertanyaan filosofis. Seorang dokter mengetahui bahwa pasien yang seharusnya berada di rumah sakit tiba-tiba menghilang dalam keadaan sangat kritis.
Pencarian tersebut membawanya menuju sebuah fasilitas penelitian tersembunyi. Di tempat itu, sekelompok ilmuwan sedang melakukan eksperimen yang tidak pernah memperoleh persetujuan sang dokter maupun pasien.
Tujuan penelitian mereka bukan sekadar mempelajari fungsi organ atau aktivitas otak. Para peneliti ingin mengetahui apakah manusia memiliki jiwa dan apakah keberadaannya dapat dideteksi tepat ketika tubuh mengalami kematian.
Dari sinilah film berubah dari misteri medis menjadi perdebatan antara sains, spiritualitas, etika, serta keterbatasan manusia dalam memahami kematian.
Sinopsis Laboratory Conditions
Dr. Emma Holloway sedang menjalankan tugas di rumah sakit ketika mengetahui salah satu pasiennya, George Lockwood, menghilang secara misterius. Kondisi George sangat buruk dan ia diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Emma mulai mencari tahu bagaimana pasien dengan kondisi seperti itu dapat meninggalkan rumah sakit. Perhatiannya kemudian tertuju kepada sebuah kendaraan mencurigakan yang bergerak meninggalkan area fasilitas medis.
Ia mengikuti jejak kendaraan tersebut hingga tiba di sebuah laboratorium besar. Tempat itu terlihat seperti fasilitas penelitian profesional, tetapi kegiatan yang dilakukan di dalamnya tidak pernah mendapatkan izin yang semestinya.
Emma menemukan George dalam keadaan hidup tetapi sangat dekat dengan kematian. Tubuhnya telah dipasangi berbagai alat pemantau dan dijadikan objek eksperimen oleh sekelompok peneliti.
Eksperimen tersebut dipimpin Marjorie Cane. Ia dan timnya berusaha menentukan secara ilmiah kapan tepatnya kehidupan berakhir serta apakah sesuatu yang dapat disebut sebagai jiwa meninggalkan tubuh pada saat kematian.
Emma menentang tindakan mereka karena George merupakan pasien, bukan objek penelitian yang dapat diambil tanpa persetujuan. Namun, rasa ingin tahu terhadap tujuan eksperimen membuat dirinya tetap berada di laboratorium.
Ketika kondisi George semakin mendekati kematian, peralatan mulai menghasilkan data. Pada saat yang sama, Emma mengalami sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh alat-alat ilmiah di sekitarnya.
Dr. Emma Holloway sebagai Pusat Cerita
Emma Holloway merupakan dokter yang memandang pasien sebagai manusia yang harus dihormati hingga akhir kehidupan. Karena itu, hilangnya George tidak dapat dianggap sebagai persoalan administratif sederhana.
Ia merasa mempunyai tanggung jawab mencari pasien tersebut. Keputusan itu akhirnya membawa Emma melewati batas dunia medis yang dikenalnya menuju penelitian eksperimental yang mempertanyakan dasar dari kehidupan manusia.
Emma juga menjadi sudut pandang utama penonton. Kita memasuki laboratorium bersamanya dan mengetahui tujuan eksperimen secara bertahap melalui percakapan dengan para ilmuwan.
Reaksinya terhadap penelitian mencerminkan pertanyaan moral yang kemungkinan muncul dalam pikiran penonton. Bahkan apabila eksperimen dapat memberikan jawaban penting mengenai kematian, apakah manusia berhak menjalankannya dengan cara seperti itu?
Marisa Tomei sebagai Dr. Emma Holloway
Marisa Tomei memerankan Dr. Emma Holloway dan membawa karakter tersebut dari rasa curiga menuju keterkejutan serta ketakutan. Penampilannya menjadi bagian penting karena sebagian besar ketegangan film bergantung pada reaksi Emma terhadap apa yang ia temukan.
Tomei dikenal melalui berbagai film seperti My Cousin Vinny, The Wrestler, Before the Devil Knows You’re Dead, dan sejumlah produksi Marvel. Dalam film pendek ini, ia tampil dalam cerita yang jauh lebih kecil tetapi mempunyai gagasan filosofis besar.
Emma bukan ilmuwan yang menolak sains. Ia sendiri merupakan dokter dan memahami penelitian medis, tetapi merasa bahwa pengetahuan tidak membenarkan semua tindakan yang dilakukan atas nama eksperimen.
Marjorie Cane sebagai Pemimpin Eksperimen
Marjorie Cane merupakan ilmuwan yang memimpin penelitian rahasia di laboratorium. Ia percaya bahwa pertanyaan mengenai kematian dapat diperiksa melalui metode ilmiah apabila kondisi eksperimen dikendalikan secara ketat.
Cane melihat George sebagai kesempatan yang sangat langka. Seorang manusia yang berada sangat dekat dengan kematian memungkinkan timnya mengukur perubahan biologis pada detik-detik terakhir kehidupan.
Pendekatannya sangat berbeda dari Emma. Bagi Emma, George tetap merupakan seorang pasien, sedangkan Cane lebih banyak melihatnya sebagai subjek yang dapat memberikan data penting.
Perbedaan tersebut menciptakan konflik utama film. Keduanya sama-sama mempunyai latar ilmiah, tetapi mempunyai pandangan berbeda mengenai batas yang tidak boleh dilampaui penelitian.
Minnie Driver sebagai Marjorie Cane
Minnie Driver memerankan Marjorie Cane dengan pembawaan tenang dan terkendali. Cane tidak perlu berteriak atau melakukan kekerasan untuk terlihat mengancam karena keyakinannya terhadap eksperimen sudah cukup menciptakan ketidaknyamanan.
Driver membuat karakter tersebut tidak terasa seperti ilmuwan jahat sederhana. Cane benar-benar percaya bahwa apa yang sedang dilakukannya dapat menghasilkan jawaban terhadap salah satu misteri terbesar manusia.
Justru keyakinan tersebut membuat karakter semakin menarik. Ia bersedia mengabaikan persoalan etika karena merasa hasil penelitian mempunyai nilai yang jauh lebih besar.
Robbins dan Posisi di Antara Dua Pandangan
Robbins merupakan salah satu peneliti yang bekerja bersama Marjorie Cane. Ia membantu menjalankan sistem dan menjelaskan proses eksperimen kepada Emma.
Karakter tersebut mempunyai posisi menarik karena tidak selalu terlihat sekeras Cane. Ia tetap terlibat dalam eksperimen, tetapi mulai menunjukkan reaksi terhadap sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan menggunakan data.
Robbins membantu menjembatani dua pandangan utama film. Di satu sisi terdapat Cane yang sangat percaya kepada pengukuran ilmiah, sementara di sisi lain Emma mulai mengalami sesuatu yang melampaui instrumen laboratorium.
Paulo Costanzo sebagai Robbins
Paulo Costanzo memerankan Robbins sebagai ilmuwan yang cepat berpikir dan terbiasa berbicara menggunakan istilah teknis. Karakter tersebut memberikan informasi penting tanpa mengubah film menjadi penjelasan ilmiah yang terlalu panjang.
Costanzo dikenal melalui film dan serial seperti Road Trip, Royal Pains, dan Designated Survivor. Dalam Laboratory Conditions, ia menjadi bagian dari kelompok yang mencoba memberikan bukti terhadap sesuatu yang selama ini berada dalam wilayah kepercayaan.
George Lockwood sebagai Subjek Eksperimen
George Lockwood adalah pasien yang hilang dari rumah sakit. Kondisinya berada di ambang kematian sehingga ia menjadi subjek ideal bagi tujuan penelitian Cane.
John F. Kearney memerankan George dalam kondisi yang sebagian besar tidak mampu berkomunikasi. Meskipun demikian, keberadaannya menjadi pusat seluruh konflik.
Pertanyaan terpenting bukan hanya mengenai apa yang terjadi setelah George meninggal. Film juga mempertanyakan apakah dirinya pernah memiliki kesempatan untuk menyetujui apa yang dilakukan terhadap tubuhnya.
George menjadi simbol konflik antara kebutuhan manusia memperoleh jawaban dan hak seseorang terhadap tubuh serta kehidupannya sendiri.
Eksperimen untuk Menemukan Jiwa
Tujuan utama penelitian dalam film adalah mengamati proses kematian dalam kondisi laboratorium yang terkendali. Para ilmuwan ingin menentukan apakah terdapat fenomena yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui perubahan biologis.
Mereka memonitor tubuh George menggunakan berbagai instrumen. Setiap perubahan dalam fungsi tubuh direkam ketika dirinya semakin dekat menuju kematian.
Pertanyaan yang mereka ajukan sangat besar: apakah jiwa benar-benar ada? Apabila ada, apakah sesuatu terjadi pada tubuh ketika jiwa tersebut pergi?
Film tidak mencoba memberikan jawaban ilmiah lengkap. Sebaliknya, eksperimen digunakan sebagai cara untuk memaksa karakter dan penonton mempertanyakan keyakinan masing-masing.
Sains Melawan Spiritualitas
Konflik antara sains dan spiritualitas menjadi salah satu tema paling jelas dalam Laboratory Conditions. Cane ingin memperoleh bukti yang dapat diukur, sementara pengalaman Emma mulai menunjukkan bahwa tidak seluruh fenomena dapat dilihat oleh mesin.
Film tidak sepenuhnya mengatakan bahwa ilmu pengetahuan salah. Justru seluruh eksperimen hanya mungkin dilakukan karena perkembangan teknologi serta pengetahuan medis.
Namun, terdapat pertanyaan mengenai apakah manusia mempunyai alat yang tepat untuk mengukur semua aspek keberadaan. Sesuatu yang tidak terdeteksi oleh alat belum tentu secara otomatis tidak ada.
Ketegangan tersebut membuat film tetap menarik setelah selesai ditonton karena jawabannya dapat berbeda berdasarkan pandangan setiap penonton.
Apa yang Terjadi Setelah Kematian?
Pertanyaan mengenai kehidupan setelah kematian telah muncul dalam hampir setiap kebudayaan manusia. Agama, filsafat, serta ilmu pengetahuan mempunyai pendekatan berbeda untuk membicarakannya.
Laboratory Conditions membawa pertanyaan itu ke dalam fasilitas penelitian. Alih-alih hanya memperdebatkan teori, para karakter mempunyai seorang manusia yang benar-benar sedang mendekati kematian di depan mereka.
Kondisi tersebut membuat pertanyaan filosofis berubah menjadi sesuatu yang sangat nyata. Ketika detik terakhir tiba, apakah yang tersisa hanyalah tubuh atau terdapat bagian lain yang tidak terlihat?
Kapan Seseorang Benar-Benar Meninggal?
Kematian dalam dunia medis tidak sesederhana mematikan sebuah mesin. Berbagai fungsi tubuh dapat berhenti pada waktu berbeda dan teknologi modern mampu mempertahankan beberapa proses untuk periode tertentu.
Film memanfaatkan ketidakjelasan tersebut untuk membangun eksperimen. Para peneliti ingin menemukan satu titik yang dapat dianggap sebagai perpindahan antara kehidupan dan kematian.
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang melampaui ilmu kedokteran. Apabila kesadaran atau jiwa memang ada secara terpisah, definisi kematian biologis mungkin bukan seluruh jawabannya.
Persoalan Etika Penelitian terhadap Manusia
Eksperimen dalam film secara jelas mempunyai persoalan etika karena George dibawa dari rumah sakit untuk dijadikan subjek penelitian. Emma mempertanyakan hak kelompok tersebut melakukan tindakan tanpa persetujuan.
Pengetahuan ilmiah dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat, tetapi penelitian terhadap manusia membutuhkan batas. Persetujuan, keselamatan, martabat, serta hak pasien merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan.
Film menggunakan eksperimen ekstrem untuk menampilkan dilema tersebut. Bahkan apabila hasilnya dapat menjawab pertanyaan mengenai jiwa, metode yang digunakan tetap harus diperiksa secara moral.
Perbedaan Emma dan Cane
Emma dan Cane sama-sama berasal dari dunia ilmu pengetahuan, sehingga konflik mereka lebih menarik daripada sekadar agama melawan sains. Keduanya memahami pentingnya bukti tetapi menggunakan prinsip yang berbeda.
Emma memprioritaskan tanggung jawab terhadap pasien. Cane memprioritaskan kesempatan memperoleh pengetahuan yang mungkin tidak dapat ditemukan kembali.
Tidak ada perbedaan mengenai pentingnya memahami kematian. Persoalan mereka adalah seberapa jauh seseorang boleh pergi untuk mendapatkan jawabannya.
Laboratorium sebagai Ruang yang Menakutkan
Sebagian besar cerita berlangsung dalam lingkungan laboratorium yang steril dan terkendali. Secara teori, tempat seperti itu seharusnya mewakili keteraturan serta rasionalitas.
Namun, pencahayaan redup, mesin, kabel, monitor, dan aktivitas rahasia membuat fasilitas tersebut terasa mengancam. Penonton memahami bahwa sesuatu sedang dilakukan jauh dari pengawasan normal.
Kontras antara lingkungan ilmiah yang bersih dan eksperimen tidak etis menciptakan horor tersendiri. Tidak diperlukan rumah berhantu ketika manusia sendiri mampu menciptakan situasi yang mengganggu.
Atmosfer Horor tanpa Mengandalkan Jumpscare
Laboratory Conditions lebih banyak membangun rasa takut melalui suasana dan gagasan daripada jumpscare. Ketegangan muncul karena penonton mengetahui bahwa eksperimen sedang bergerak menuju kematian seseorang.
Setiap pembacaan mesin menjadi semakin penting ketika kondisi George memburuk. Penonton menunggu sesuatu terjadi tetapi tidak mengetahui bagaimana film akan menggambarkannya.
Pendekatan tersebut membuat film lebih dekat kepada psychological horror dan science-fiction thriller daripada horor monster tradisional.
Unsur Fiksi Ilmiah dalam Cerita
Fiksi ilmiah dalam film berasal dari usaha menggunakan teknologi untuk menjawab pertanyaan yang belum dapat diselesaikan ilmu modern. Eksperimen tersebut dibangun dari gagasan spekulatif mengenai jiwa serta kesadaran.
Teknologi tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sangat futuristik. Justru suasana laboratorium yang terlihat cukup masuk akal membuat premis terasa lebih dekat dengan kenyataan.
Film mempertanyakan apa yang mungkin dilakukan manusia apabila teknologi suatu hari mampu mengamati proses yang sebelumnya dianggap tidak dapat diukur.
Jocelyn Stamat sebagai Sutradara
Laboratory Conditions disutradarai Jocelyn Stamat. Film ini menjadi karya drama naratif pertama yang disutradarainya dan kemudian beredar di berbagai festival film internasional.
Stamat menggunakan durasi pendek untuk membangun misteri tanpa memberikan terlalu banyak informasi di awal. Penonton mengikuti Emma dari rumah sakit menuju laboratorium sebelum memahami tujuan sebenarnya dari eksperimen.
Penyutradaraannya juga memberi ruang besar kepada penampilan para aktor. Sebagian besar konflik terjadi melalui dialog serta reaksi dibandingkan rangkaian aksi.
Terry Rossio sebagai Penulis Skenario
Skenario Laboratory Conditions ditulis Terry Rossio. Ia dikenal sebagai penulis yang terlibat dalam berbagai produksi besar seperti Aladdin, Shrek, The Mask of Zorro, serta seri Pirates of the Caribbean.
Dalam film pendek ini, Rossio bekerja dengan skala yang jauh lebih kecil. Alih-alih petualangan besar, cerita berpusat pada percakapan antara beberapa karakter dalam sebuah laboratorium.
Struktur yang ringkas membuat setiap dialog mempunyai fungsi. Informasi mengenai eksperimen, konflik etika, dan pertanyaan filosofis harus disampaikan tanpa membuat durasi berkembang seperti film panjang.
Joe Russell sebagai Produser
Joe Russell tercatat sebagai produser Laboratory Conditions. Ia bekerja bersama Jocelyn Stamat dan Terry Rossio dalam membawa skenario tersebut menjadi produksi film pendek.
Proyek ini berhasil menghadirkan pemeran terkenal meskipun formatnya bukan film panjang. Kehadiran Marisa Tomei, Minnie Driver, dan Paulo Costanzo menjadi salah satu hal yang membuat produksi terlihat lebih besar daripada banyak film pendek independen.
Ben Kutchins sebagai Sinematografer
Ben Kutchins menangani sinematografi film. Visual laboratorium mempunyai peran penting dalam menciptakan suasana yang dingin, misterius, serta semakin tidak nyaman.
Kutchins menggunakan ruang, pencahayaan, dan komposisi untuk membuat fasilitas penelitian terasa lebih besar daripada lokasi biasa. Penonton selalu mempunyai kesan bahwa terdapat bagian lain dari eksperimen yang belum diketahui Emma.
Karya sinematografinya juga memperoleh perhatian di sirkuit festival. Film mendapatkan penghargaan sinematografi di Oregon Short Film Festival.
Andrew Kawczynski dan Musik Film
Andrew Kawczynski menggubah musik untuk Laboratory Conditions. Musik digunakan secara hati-hati karena film sangat bergantung pada suasana sunyi dan dialog.
Skor membantu meningkatkan ketegangan ketika Emma mencari pasiennya serta ketika eksperimen mendekati tahap terakhir. Musik tidak perlu terlalu besar karena ruang laboratorium yang tertutup sudah menciptakan tekanan sendiri.
Robert Scheid sebagai Editor dan Pemeran
Robert Scheid tercatat sebagai editor film sekaligus tampil dalam jajaran pemeran sebagai Dan. Keterlibatannya di depan dan belakang kamera menjadi bagian menarik dari produksi.
Penyuntingan sangat penting dalam film berdurasi sekitar 16 hingga 17 menit. Tidak banyak waktu tersedia untuk membangun rumah sakit, pencarian pasien, laboratorium, eksperimen, serta kesimpulan.
Ritme yang rapat membuat cerita dapat bergerak cepat tanpa menghilangkan atmosfer misterinya.
Pemain Laboratory Conditions (2018)
Marisa Tomei memimpin jajaran pemeran sebagai Dr. Emma Holloway, sedangkan Minnie Driver tampil sebagai Marjorie Cane. Paulo Costanzo memerankan Robbins, salah satu anggota tim penelitian.
John F. Kearney tampil sebagai George Lockwood, pasien yang menjadi pusat eksperimen. Lisa Renée berperan sebagai Alice dan Robert Scheid memerankan Dan.
Casey Strand, Laura Maccabee, Gayla Goehl, Bob Bancroft, Samba Schutte, serta sejumlah pemain lainnya melengkapi jajaran karakter di rumah sakit maupun laboratorium.
Durasi Laboratory Conditions
Laboratory Conditions merupakan film pendek dengan durasi sekitar 16 hingga 17 menit. Perbedaan kecil tersebut muncul pada pencatatan beberapa katalog dan festival.
IMDb mencantumkan durasi 17 menit, sementara sejumlah katalog festival dan film mencatat sekitar 16 menit. Dalam kedua kasus, film tetap berada dalam format short film dan bukan feature-length movie.
Durasi singkat menjadi salah satu kekuatannya. Cerita masuk dengan cepat ke dalam misteri dan meninggalkan penonton dengan pertanyaan setelah eksperimen selesai.
Tahun Produksi 2017 atau 2018?
Informasi tahun film terkadang berbeda antara basis data. IMDb dan beberapa katalog mencatat Laboratory Conditions sebagai film pendek tahun 2017.
Sementara itu, Letterboxd dan berbagai materi festival menggunakan tahun 2018, terutama berkaitan dengan rangkaian pemutaran festival seperti Tribeca Film Festival. Karena itu, judul sering ditemukan sebagai Laboratory Conditions (2018).
Perbedaan tersebut biasanya terjadi karena tahun penyelesaian produksi dan tahun sirkulasi festival tidak selalu sama. Dalam artikel ini, tahun 2018 digunakan mengikuti pencatatan halaman film serta keyword penonton.
Laboratory Conditions di Tribeca Film Festival
Film ini menjadi bagian dari Tribeca Film Festival 2018. Kehadirannya di festival tersebut membantu memperkenalkan produksi kepada penonton yang lebih luas.
Film diputar dalam beberapa jadwal selama festival pada April 2018. Format pendek serta jajaran pemeran terkenal membuatnya menjadi salah satu proyek yang menarik perhatian dalam program short film.
Sirkuit festival juga memberikan kesempatan kepada film untuk dibahas sebagai karya fiksi ilmiah yang tidak hanya menawarkan konsep, tetapi juga perdebatan filosofis.
Penghargaan dan Festival Film
Laboratory Conditions memperoleh sejumlah penghargaan selama perjalanan festivalnya. Jocelyn Stamat menyebut film tersebut memenangkan Best Short Film di Pasadena International Film Festival.
Film juga memperoleh penghargaan Best Science Fiction Short Film dan Best Short Film secara keseluruhan di Independent Filmmakers Showcase. Ben Kutchins mendapat penghargaan Best Cinematography di Oregon Film Festival.
Selain itu, film memperoleh Best Short Film di WorldFest serta masuk dalam berbagai festival di Amerika Serikat dan internasional.
Pertanyaan Filosofis yang Ditinggalkan Film
Salah satu alasan film tetap menarik setelah durasi singkatnya selesai adalah karena cerita tidak berhenti pada eksperimen. Penonton ditinggalkan dengan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
Apakah manusia hanya merupakan sistem biologis yang berhenti ketika organ tidak lagi berfungsi? Apakah kesadaran dapat terus berada dalam bentuk yang belum mampu kita ukur?
Film tidak memaksa penonton memilih satu jawaban. Ia lebih tertarik mengganggu kepastian yang sebelumnya dimiliki setiap karakter.
Apakah Laboratory Conditions Layak Ditonton?
Laboratory Conditions dapat menjadi pilihan menarik bagi penonton yang menyukai fiksi ilmiah pendek dengan konsep filosofis. Film tidak membutuhkan efek visual berskala besar untuk menciptakan misteri.
Marisa Tomei dan Minnie Driver menjadi daya tarik terbesar melalui karakter yang berdiri pada sisi berbeda dari perdebatan. Paulo Costanzo melengkapi dinamika sebagai peneliti yang berada di antara keduanya.
Film ini cocok bagi penonton yang menyukai cerita tentang eksperimen rahasia, etika medis, kehidupan setelah kematian, dan batas ilmu pengetahuan. Durasi yang singkat juga membuat ceritanya mudah disaksikan tanpa kehilangan fokus.
Penonton yang mencari aksi atau horor penuh jumpscare mungkin perlu menyesuaikan ekspektasi. Kekuatan utama film berada pada atmosfer, dialog, gagasan, dan pengungkapan menjelang akhir.
Makna Judul Laboratory Conditions
Istilah laboratory conditions mengacu pada kondisi eksperimen yang dikendalikan agar peneliti dapat mengamati sebuah fenomena secara sistematis. Dalam film, para ilmuwan berusaha menciptakan kondisi tersebut untuk mengamati kematian.
Ironinya, kematian dan keberadaan jiwa mungkin merupakan sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya ditempatkan dalam parameter laboratorium. Semakin keras para ilmuwan berusaha mengendalikannya, semakin jelas bahwa terdapat unsur yang tidak mereka pahami.
Judul tersebut akhirnya mencerminkan konflik utama film. Manusia mencoba memasukkan salah satu misteri terbesar kehidupan ke dalam lingkungan yang dapat diukur, tetapi hasilnya justru membuka lebih banyak pertanyaan.
Kesimpulan
Laboratory Conditions (2018) mengikuti Dr. Emma Holloway ketika pencarian terhadap pasiennya yang hilang membawa dirinya menuju laboratorium rahasia. Di sana, Marjorie Cane dan tim ilmuwan menggunakan George Lockwood dalam eksperimen untuk mengetahui apa yang terjadi tepat ketika manusia meninggal.
Konflik kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai ilmu pengetahuan, jiwa, etika medis, kesadaran, dan kehidupan setelah kematian. Dalam durasi sekitar 16 hingga 17 menit, film mampu membangun misteri sekaligus meninggalkan pertanyaan filosofis yang jauh lebih besar daripada skala produksinya.
Dengan arahan Jocelyn Stamat, skenario Terry Rossio, serta penampilan Marisa Tomei, Minnie Driver, Paulo Costanzo, John F. Kearney, Lisa Renée, dan Robert Scheid, film pendek ini menjadi tontonan menarik bagi penggemar horor dan fiksi ilmiah konseptual. Penonton yang ingin mengikuti eksperimen rahasia serta pencarian Emma terhadap kebenaran dapat mengunjungi halaman nonton Laboratory Conditions (2018) hingga akhir.
